Permintaan Turun, Yield Naik
Penurunan permintaan terjadi lantaran permintaan terhadap seri FR0109 (tenor 5 tahun) turun sebesar 21,81% menjadi Rp34,74 triliun, dari posisi lelang sebelumnya Rp44,44 triliun.
Lesunya permintaan pada seri ini membuat pemerintah juga menurunkan penerbitannya sebesar 33,12% menjadi Rp15,75 triliun dari Rp23,55 triliun.
Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) malahan melonjak dari 6,27% menjadi 6,64%, kenaikannya sekitar 36 basis poin (bps).
Ini mengindikasikan bahwa investor mulai menuntut premi risiko lebih tinggi, bahkan untuk tenor yang sebelumnya paling likuid.
Tekanan serupa terlihat pada seri FR0108 (10 tahun, jatuh tempo 2036), di mana yield naik 20 bps dari 6,61% menjadi 6,81%, sementara permintaan turun dari Rp10,66 triliun menjadi Rp9,22 triliun.
Pada FR0106 (15 tahun, jatuh tempo 2040), yield meningkat dari 6,73% menjadi 6,82%, dengan permintaan relatif stagnan di kisaran Rp4,6 triliun.
Hal ini menunjukkan bahwa tenor menengah-panjang sepertinya mulai kehilangan daya tarik relatifnya di tengah ketidakpastian.
Di sisi lain, meski permintaan pada seri SPN dengan tenor sangat pendek di bawah 1 tahun turun 7,1% menjadi Rp11,19 triliun, tapi penerbitannya justru naik 13,4% menjadi Rp7,8 triliun dari sebelumnya Rp6,9 triliun.
Permintaan Tenor Panjang Naik
Sebaliknya, permintaan investor pada ser SUN bertenor panjang justru naik. Seri seperti FR0107 (tenor 19 tahun, jatuh tempo 2045) mencatat kenaikan permintaan dari Rp3,56 triliun menjadi Rp7,05 triliun, naik 98%. Penerbitannya juga ikut ikut naik dari Rp1,87 triliun menjadi Rp4,20 triliun.
FR0102 (28 tahun, jatuh tempo 2054) dan FR0105 (38 tahun, jatuh tempo 2064) juga mengalami peningkatan signifikan, dengan total permintaan tenor panjang melonjak lebih dari dua kali lipat.
Sementara, yield di segmen ini relatif lebih stabil, seperti FR0105 hanya naik tipis dari 6,85% ke 6,88%.
“Pergeseran ke tenor panjang ini mencerminkan strategi defensif investor yang dipengaruhi oleh langkah Bank Indonesia melalui operasi twist di pasar obligasi,” sebut Laporan Mega Capital Sekuritas, yang disusun oleh Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist dan Nanda Puput Rahmawati Fixed Income Analyst.
Menurut Lionel, dinamika yang terjadi pada lelang kemarin menggambarkan bahwa tenor pendek kini lebih dipandang sebagai ruang untuk trading jangka pendek, sementara fungsi lindung nilai mulai bergeser ke tenor yang lebih panjang.
Mahalnya Harga Risiko
Investor mengganjar mahal harga risiko berinvestasi di pasar domestik, saat ketidakpastian geopolitik belum reda dan defisit fiskal RI yang berpotensi melebar.
Hal ini tercermin dari pergerakan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun yang berada di kisaran 88–91 basis poin sepanjang April 2026.
Level tersebut memang masih menunjukkan stabilitas relatif jika dibandingkan dengan banyak negara berkembang lain, namun dinamika pergerakannya menjadi lebih sensitif. Fluktuasi CDS cenderung meningkat seiring memanasnya ketegangan geopolitik global serta ketidakpastian arah kebijakan moneter di AS.
Di sisi lain, selisih imbal hasil antara obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dan US Treasury tenor serupa tetap bertahan di level lebar, yakni sekitar 240–250 basis poin.
Spread ini pada dasarnya mencerminkan premi risiko yang diminta investor untuk mengompensasi potensi pelemahan nilai tukar, tekanan inflasi, serta ketahanan fundamental makro domestik.
Dalam skenario di mana kredibilitas fiskal mulai dipertanyakan, misalnya akibat pelebaran defisit atau meningkatnya tekanan pembiayaan utang jatuh tempo, spread tersebut berisiko melebar lebih jauh.
Kondisi ini bukan tanpa konsekuensi. Paling tidak, penerbitan utang baru akan meningkat tajam dan dalam waktu relatif singkat dapat menekan likuiditas APBN, bahkan dalam horizon satu hingga dua kuartal ke depan.
(dsp/aji)



























