Selain itu, beban impairment BBRI ikut susut 15,77% ke level Rp 7,53 triliun dan beban lainnya ikut susut 14,7% ke level Rp 3,91 triliun.
Pertumbuhan laba bank pelat merah itu juga didorong kenaikan kredit yang signifikan pada awal tahun ini. Sampai periode dua bulanan 2026, BBRI menghimpun kredit Rp 1.346,16 triliun, naik 10,49% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1.218,39 triliun.
Seiring dengan kenaikan kredit itu, BBRI turut mencatat pertumbuhan aset 6,46% menjadi Rp 1.983,03 sampai Februari 2026.
Dari sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) BBRI mencapai Rp 1.508,84 triliun atau naik 9,26% dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya. DPK itu berasal dari giro mencapai Rp 428,89 triliun, tabungan senilai Rp 588,38 triliun, dan deposito mencapai Rp 491,57 triliun.
Artinya, dana murah atau current account saving account/CASA BBRI sampai periode dua bulanan 2026 sebesar Rp 1.017,27 triliun, tumbuh 13,59%.
Valuasi Atraktif
Valuasi BRI juga sangat menarik. Saham BBRI sudah terdiskon sehingga begitu atraktif dibandingkan peers-nya, bahkan di level Asia dan Australia.
Mengutip Bloomberg, saat ini valuasi BBRI yang dilihat dari sisi Price-to-Book Value (P/BV) ada di 1,4 kali. Valuasi ini menjadi yang termurah setidaknya dalam 10 tahun terakhir.
Ini bahkan lebih menarik ketimbang bank-bank besar di kawasan seperti ICICI Bank Ltd (India), DBS Group Holdings Ltd (Singapura). HDFC Bank Ltd (India), National Australia Bank Ltd (Australia), hingga Mitsubishi UFJ Financial Group (Jepang).
BBRI juga menjanjikan keuntungan yang tidak kaleng-kaleng. Return on Equity (RoE) BBRI rata-rata berada di kisaran 20% dalam 10 tahun terakhir. Ini berpotensi menjadikan BBRI sebagai salah satu bank paling menguntungkan di Asia Tenggara.
Pelaku pasar pun masih memasang posisi bullish untuk BBRI. Berdasarkan konsensus Bloomberg yang melibatkan 35 institusi, sebanyak 29 analis (82,86%) menyematkan rekomendasi beli atau buy saham BBRI.
Target harga saham BBRI untuk 12 bulan ke depan berdasarkan konsensus pasar ada di Rp 4.377,95. Akhir pekan lalu, harga saham BBRI ditutup di Rp 3.070. Artinya, BBRI berpeluang memberikan keuntungan 42,6%.
Sucor Sekuritas bahkan memasang target harga saham BBRI bisa mencapai Rp 5.200. Jika terwujud, maka ada ruang kenaikan mencapai 69,38%.
“Dengan posisi sekarang, BBRI diperdagangkan jauh di bawah rata-rata valuasi historis jangka panjangnya, walau perseroan begitu dominan di segmen UMKM dan memiliki profitabilitas yang berdaya tahan,” sebut riset Sucor Sekuritas.
Alhasil, Sucor Sekuritas menyematkan rekomendasi buy untuk BBRI. Target harga di Rp 5.200 mencerminkan forward P/BV di 2,3 kali dengan asumsi RoE di 23%.
“Kami melihat pasar terlalu berfokus kepada tekanan biaya kredit jangka pendek, dan mengesampingkan kekuatan BBRI dalam mencetak laba. Seiring normalisasi kualitas kredit dan perbaikan likuiditas pada 2026, kami memperkirakan valuasi BBRI akan mendekati rerata historisnya,” papar Sucor Sekuritas.
(red)




























