Logo Bloomberg Technoz

Penurunan terdalam dan paling dasar dihuni oleh KOSPI (Korea Selatan), yang melemah mencapai 4,47%. NIKKEI 225 (Jepang) berada di posisi kedua terlemah dengan drop 2,38%. Susul IHSG (Indonesia) yang turun 2,19% pada penutupan perdagangan saham hari ini.

TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), Shenzhen Comp. (China), CSI 300 (China), Shanghai Comp. (China), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), Straits Time (Singapura), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), SETI (Thailand), dan SENSEX (India), yang masing–masing melemah mencapai 1,82%, 1,61%, 1,59%, 1,04%, 0,74%, 0,7%, 0,62%, 0,57%, 0,48%, 0,35%, dan 0,05%.

Dari dalam negeri, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Kamis tutup dagang hari ini, rupiah amat lesu di hadapan dolar Amerika Serikat. US$1 setara dengan Rp17.000. Rupiah melemah 0,12% point–to–point.

Sejak pagi tadi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi amat dalam pada Kamis (2/4/2026) yang menembus level genting Rp17.000/US$.

Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.024/US$ yang menjadi titik terlemahnya intraday. Rupiah melemah amat dalam di tengah tekanan sentimen pasar global yang semakin mengangkat tinggi–tinggi pamor dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah tak sendirian. Di Asia saat ini, sejumlah mata uang loyo di hadapan dolar AS. Baht Thailand memimpin pelemahan dengan penurunan 0,57%, yen Jepang melemah 0,5%, ringgit Malaysia drop 0,35%, dolar Singapura terdepresiasi 0,31%, yuan China melemah 0,29%, hingga won Korea Selatan yang merah 0,11%, seiring dolar Taiwan yang juga terdepresiasi 0,1%.

Adapun rupiah dan mata uang Asia lain tertekan lantaran peningkatan eskalasi konflik Timur Tengah yang menguatkan kembali dolar AS sebagai safe haven.

Dolar AS makin perkasa dengan level tertinggi mencapai 100,17 pada perdagangan Kamis, sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump yang baru saja berbicara di Gedung Putih. 

Trump kembali memperingatkan kemungkinan peningkatan eskalasi seiring AS terus mengerahkan aset militer di Timur Tengah. 

Dia mengatakan AS akan menyerang Iran 'dengan sangat keras' dalam dua hingga tiga pekan ke depan, dan menyebut akan menargetkan infrastruktur penting seperti pembangkit listrik, jika kesepakatan tidak tercapai. 

Efeknya, saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.

Pada nantinya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, investor sulit berharap akan datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.

(fad)

No more pages