Nusantara AI Institute Dorong Literasi AI RI, Libatkan Sandiaga

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nusantara AI Institute resmi meluncurkan inisiatif literasi kecerdasan buatan (AI) melalui dialog perdana yang digelar di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York pada 27 Maret.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkenalkan program kursus AI sebagai bagian dari gerakan nirlaba yang didukung oleh Aether AI.
Forum tersebut menghadirkan berbagai tokoh lintas sektor, mulai dari perwakilan diplomatik hingga pemimpin industri dan akademisi. Diskusi berfokus pada posisi Indonesia dalam peta global AI serta tantangan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tengah pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menekankan pentingnya AI sebagai kompetensi dasar masa depan.
“Ini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, ke depan, literasi AI akan menjadi keterampilan dasar seperti membaca dan menulis, sekaligus membuka peluang baru di berbagai sektor industri,” ujarnya.
Dengan populasi sekitar 287 juta jiwa, Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai pasar dan kekuatan ekonomi domestik. Namun, efisiensi tenaga kerja masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi melalui pemanfaatan teknologi, termasuk AI.
AI Jadi Kunci Produktivitas dan Inovasi
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert O. Blake Jr., menyoroti pentingnya pemahaman AI lintas sektor. Menurutnya, teknologi ini tidak hanya relevan bagi industri teknologi, tetapi juga penting bagi pekerjaan konvensional dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Sektor kesehatan dan pendidikan disebut sebagai area dengan potensi adopsi AI terbesar di Indonesia. Dalam kesehatan, AI dapat dimanfaatkan untuk riset penyakit dan pengembangan farmasi berbasis biodiversitas. Sementara itu, di bidang pendidikan, AI membuka peluang pengembangan sistem pembelajaran offline yang dapat menjangkau berbagai bahasa lokal.
Selain itu, pelaku usaha mikro juga dinilai dapat memperoleh manfaat dari AI melalui pendekatan microlearning yang lebih personal. Hal ini memungkinkan peningkatan kapasitas bisnis secara lebih efektif dan terukur.
Konsul Jenderal RI di New York, Winanto Adi, menekankan pentingnya peran diaspora dalam transfer pengetahuan dan inovasi.
“Kita perlu memastikan masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkan AI secara strategis,” ujarnya.
Diskusi panel juga menyoroti pentingnya perubahan pola penggunaan AI. Para pembicara menilai bahwa pemanfaatan AI harus bergerak dari sekadar penggunaan pasif menjadi pendekatan yang lebih kritis dan aplikatif.
“Literasi AI berarti berpikir bersama AI, bukan sekadar menggunakannya,” kata Russel Bradley.
“Tantangan di Indonesia adalah memastikan teknologi ini memperkuat kemampuan problem solving, bukan justru memperkuat pola pembelajaran pasif,” tambahnya.
Indonesia saat ini tengah menyusun kerangka nasional tata kelola AI yang mencakup sektor strategis seperti kesehatan, layanan publik, dan pendidikan. Fokus utama meliputi penggunaan yang etis, pengembangan talenta digital, serta penguatan infrastruktur data.
Sebagai negara dengan posisi strategis di ASEAN, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memimpin pengembangan AI di kawasan. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital.
“Ketika banyak negara masih berfokus pada risiko AI, Indonesia justru dihadapkan pada pertanyaan yang berbeda, yaitu bagaimana memanfaatkan AI sebagai katalis pembangunan yang inklusif,” tutup Robert Blake.
Melalui peluncuran ini, Nusantara AI Institute menawarkan lebih dari 20 program pembelajaran AI yang dirancang untuk berbagai tingkat kemampuan. Program tersebut mencakup AI Literacy untuk pemula, AI for Business untuk optimalisasi proses bisnis, serta AI Technical yang berfokus pada machine learning.
Inisiatif ini digagas oleh Oliver Tedja bersama Johannes Simanjuntak sebagai bagian dari kontribusi diaspora Indonesia. Ke depan, institusi ini menargetkan peningkatan kapasitas individu dan profesional guna memperkuat ekosistem AI nasional.
























