Untuk diketahui armada bernilai Rp5,09 triliun tersebut punya peran penting sebagai pendeteksi ancaman jarak jauh dan mengarahkan pesawat tempur milik AS lainnya berkat cakram radar berputar di atas badan pesawat.
Peter Layton, peneliti tamu di Griffith Asia Institute, mengukapkan Amerika butuh pertahanan aktif. Kondisi perang saat ini juga menunjukkan bahwa pesawat besar rentan yang diparkir di darat jadi amat berisiko. Dalam laporan Bloomberg News, Komando Pusat AS belum memberi tanggapan.
(mef/wep)
No more pages






























