Logo Bloomberg Technoz

Konsep ini tidak hanya menciptakan diversifikasi ekonomi, tetapi juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat. Seluruh proses produksi dilakukan oleh warga, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pemasaran. Pemerintah desa berperan sebagai fasilitator, bukan pemilik usaha.

Peran Badan Usaha Milik Desa menjadi sangat penting dalam menopang ekosistem ekonomi tersebut. BUMDes Kampus Kopi Banyuanyar hadir sebagai pengelola berbagai unit usaha berbasis masyarakat yang terus berkembang.

Menurut Musli, Direktur BUMDes, sektor wisata menjadi salah satu kekuatan utama desa. Ia melihat potensi besar dalam pengembangan wisata edukasi berbasis komunitas yang melibatkan masyarakat secara langsung.

"Kami melihat bahwa Banyuanyar ini cukup layak untuk didorong menjadi desa yang bisa mengembangkan potensi wisata, terutama untuk edukasi dan itu berbasis masyarakat," jelasnya.

Transformasi Ekonomi Berbasis Komunitas

Di Kampung Susu, perubahan nyata dapat dirasakan oleh para peternak. Pramono, Ketua Klaster Kampung Susu, menjelaskan bahwa usaha ternak sapi perah kini tidak lagi berhenti pada penjualan bahan mentah. Warga mulai mengolah susu menjadi produk bernilai tambah.

Produk seperti susu pasteurisasi, yoghurt, hingga pie susu diproduksi secara mandiri di Omah Susu Koboy. Inisiatif ini berhasil meningkatkan pendapatan peternak sekaligus memperluas pasar produk lokal.

"Dengan memiliki produk olahan sendiri, nilai ekonomi susu meningkat dan penghasilan peternak juga ada peningkatan sedikit daripada kita jual ke pengepul," tuturnya.

Hal serupa juga terjadi di sektor kopi. Kedai Barendo menjadi simbol kebangkitan petani kopi lokal. Dikelilingi oleh perkebunan kopi, kedai ini menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus ruang interaksi bagi masyarakat dan wisatawan.

Petani tidak lagi bergantung pada tengkulak. Mereka kini mampu mengolah, mengemas, dan memasarkan produk kopi secara mandiri. Model ini memperkuat rantai nilai dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Di sisi lain, inovasi juga hadir dari kelompok ibu-ibu di Klaster Biofarmaka. Mereka mengembangkan tanaman obat keluarga menjadi produk olahan yang lebih modern. Produk tersebut tidak hanya sehat, tetapi juga memiliki nilai jual yang tinggi.

Berawal dari Omah Toga, pengembangan biofarmaka kini menjadi salah satu daya tarik wisata edukasi. Pengunjung dapat belajar langsung tentang pemanfaatan tanaman obat sekaligus membeli produk olahan yang dihasilkan.

Perjalanan transformasi Banyuanyar semakin kuat dengan dukungan dari sektor perbankan. BRI melalui program Desa BRILian memberikan pendampingan yang komprehensif bagi pengembangan desa.

Pendampingan tersebut mencakup berbagai aspek penting seperti peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan branding, perbaikan kemasan produk, hingga digitalisasi usaha. Selain itu, BRI juga membantu promosi melalui berbagai kegiatan seperti bazar dan expo.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa program Desa BRILian dirancang untuk memperkuat fondasi ekonomi desa secara menyeluruh. Program ini berfokus pada empat pilar utama yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan desa.

“Kisah Banyuanyar menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari desa, ketika kolaborasi, inovasi, dan semangat masyarakat berjalan beriringan. Dari kampung ke kampung, dari satu produk ke produk lainnya, Banyuanyar Green Smart Village kini bukan sekadar konsep melainkan inspirasi nyata pembangunan desa berbasis kemandirian dan keberlanjutan” tegas Dhanny.

Hingga saat ini, lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia telah mendapatkan pendampingan melalui program tersebut. Hal ini menunjukkan komitmen dalam mendorong pembangunan dari tingkat desa sebagai fondasi ekonomi nasional.

Banyuanyar kini tidak hanya menjadi desa yang berkembang, tetapi juga sumber inspirasi bagi daerah lain. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kolaborasi, inovasi, dan partisipasi aktif masyarakat dapat menciptakan perubahan nyata.

Transformasi yang terjadi di Banyuanyar membuktikan bahwa desa memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Dengan pendekatan yang tepat, desa tidak lagi tertinggal, tetapi justru menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan.

(tim)

No more pages