Logo Bloomberg Technoz

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) rampung dalam waktu 2 tahun atau pada 2028.

Hal tersebut diungkapkan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna, tepatnya ketika mengungkapkan sumber energi alternatif yang dimiliki Indonesia dan bakal digencarkan pengembangannya dalam waktu dekat.

“Kita akan melaksanakan pembangunan yang sangat cepat terhadap tenaga surya yang kita rencananya kita akan melakukan 100 Gigawatt yang kita targetkan harus selesai dalam 2 tahun yang akan datang ini. 100 Gigawatt itu adalah 100.000 Megawatt,” kata Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/03/2026).

Proyek PLTS Dibagi 2 Kategori

Sekadar informasi, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengungkapkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt (GW) bakal terbagi menjadi dua kategori.

Dia mengatakan PLTS yang terhubung dengan jaringan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) ditargetkan mencapai 89,1 gigawatt peak (GWp) dengan dukungan Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 124,1 gigawatt-jam (GWh).

“Sedangkan PLTS non-PLN untuk pemakaian sendiri dan sistem off-grid ditargetkan 11,7 GWp dengan BESS sebesar 21,8 GWh,” ujar Qodari dalam konferensi pers, Rabu (18/3/2026).

Sebagai tahap awal, pemerintah memprioritaskan pembangunan 13 GW dari total target 100 GW, terutama di wilayah yang telah memiliki infrastruktur distribusi listrik.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan PLTS off-grid isolated melalui program listrik desa, yang memberikan akses listrik bagi masyarakat di wilayah terpencil. Ini merupakan sistem pembangkit listrik tenaga surya mandiri yang beroperasi penuh tanpa terhubung ke jaringan PLN (independen).

Contoh pembangunan PLTS off-grid isolated dalam program listrik desa ada di dua wilayah. Pertama, Pulau Sakala, Desa Sakala, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Kapasitas PLTS 100 Kilo Watt Peak (kWp) dengan cakupan 500 rumah tangga.

Kedua, Pulau Karamaian, Desa Karamaian, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep. Kapasitas PLTS 175 kWp dengan cakupan 400 rumah tangga.

“Listrik di dua desa ini sebelumnya bersumber dari pembangkit listrik tenaga diesel. Waktu menyala ketika itu terbatas, apalagi kalau pasokan bahan bakar minyak [BBM] solar terganggu,” ujarnya.

“Saat ini dua desa tersebut sudah terang dialiri listrik dari PLTS, pembangkit yang ramah lingkungan, sumber energi tidak terbatas dari cahaya matahari, dan hemat biaya.”

(azr/frg)

No more pages