Serangan tersebut menyebabkan harga gas alam melonjak, di mana harga berjangka Eropa naik hingga 35% pada Kamis pagi, melebihi dua kali lipat level praperang. Lonjakan ini menyoroti risiko inflasi jangka panjang akibat konflik di Timur Tengah, yang kini memasuki minggu ketiga.
QatarEnergy sebelumnya menyatakan bahwa beberapa fasilitas LNG di Ras Laffan terkena serangan rudal, yang menyebabkan "kebakaran besar dan kerusakan parah lebih lanjut." Insiden ini menandai eskalasi baru dalam pertempuran di kawasan tersebut dan mengikuti serangkaian serangan yang menargetkan infrastruktur minyak dan gas dalam beberapa hari terakhir.
QatarEnergy tidak menanggapi permintaan komentar dari Bloomberg.
Pabrik LNG tersebut telah menghentikan produksi setelah serangan drone sebelumnya. Namun, serangan terbaru lebih dahsyat, dan penghentian produksi yang berkepanjangan akan membuat para pembeli—terutama di Asia—berupaya keras untuk mengganti jutaan ton bahan bakar yang hilang.
QatarEnergy harus menyatakan force majeure (keadaan kahar) pada kontrak jangka panjang selama lima tahun untuk pasokan yang ditujukan ke beberapa pelanggan di Eropa dan Asia, demikian kata al-Kaabi seperti dikutip Reuters.
Selain itu, ekspor kondensat Qatar akan turun hampir seperempat, sementara gas petroleum cair (LPG) mungkin turun 13%.
(bbn)



























