Sepanjang 2025, perseroan juga membukukan rugi bersih sebesar US$319,39 juta atau sekitar Rp5,36 triliun, membengkak dari rugi tahun sebelumnya sebesar US$69,78 juta.
Tekanan kinerja tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan, di mana segmen penerbangan berjadwal turun 8,30% secara tahunan menjadi US$2,51 miliar.
Direktur Utama GIAA Glenny Kairupan menerangkan tekanan kinerja itu disebabkan karena terbatasnya kapasitas produksi pada semester I-2025.
“Di mana jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” kata Glenny lewat siaran pers, Kamis (19/3/2026).
Selain itu, Glenny menambahkan, posisi rugi bersih sepanjang tahun lalu turut dipengaruhi oleh fluktuasi kurs dan peningkatan biaya fixed cost seiring program pemulihan serviceability armada.
“Garuda Indonesia Group terus memaksimalkan jumlah serviceable aircraft di akhir 2025 menjadi sedikitnya 99 armada dari sebelumnya sekitar 84 armada per Juni 2025,” kata dia.
Adapun total unserviceable armada pada akhir tahun 2025 sebanyak 43 pesawat yang saat ini tengah dalam tahapan penyelesaian perawatan armada.
Di tengah tantangan optimalisasi kapasitas produksi tersebut, jumlah penumpang tercatat 21,2 juta sepanjang 2025, terkoreksi 10,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekanan kinerja Garuda Indonesia di tahun buku 2025 juga turut dipengaruhi oleh penurunan passenger yield, pelemahan nilai tukar Rupiah, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada biaya dan proses perawatan.
Adapun, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal hanya naik tipis 2,13% menjadi US$340,88 juta, belum cukup mengimbangi pelemahan di segmen utama.
Di sisi lain, beban usaha GIAA tercatat relatif stagnan dengan beban operasional penerbangan sebesar US$1,54 miliar, beban pemeliharaan dan perbaikan US$661,36 juta, beban kebandaraan US$249,14 juta dan beban pelayanan penumpang sebesar US$216,36 juta.
Dari sisi neraca, total aset GIAA tercatat sebesar US$7,43 miliar atau sekitar Rp125 triliun pada 2025.
Di sisi lain, total liabilitas mencapai US$7,33 miliar, sementara ekuitas perseroan hanya sebesar US$91,91 juta atau sekitar Rp3,24 triliun.
Penguatan Modal
Lewat dukungan pendanaan dari Danantara, GIAA mencatatkan perbaikan pada posisi ekuitas yang berbalik positif US$91,9 juta per 31 Desember 2025, dari posisi negatif tahun sebelumnya sebesar US$1,35 miliar.
Sekitar Rp15 triliun atau 64% suntikan dana dari Danantara dialokasikan untuk penyelesaikan kewajiban Citilink, sementara GIAA memperoleh alokasi Rp8,7 triliun untuk kebutuhan perawatan armada.
Di sisi lain, GIAA mencatat kas dan setara kas sebesar US$943,4 juta pada akhir 2025, meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$219,1 juta.
“Peningkatan ini turut mencerminkan perbaikan likuiditas perusahaan yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas operasional,” kata Glenny.
Garuda Indonesia menargetkan akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft pada akhir tahun ini, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft sebanyak 50 pesawat.
“Langkah optimalisasi serviceable aircraft yang ada pada 2026 akan diperkuat melalui proyeksi percepatan beberapa inisiatif strategis proses perawatan armada,” kata dia.
Inisiatif ini mencakup heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, serta Airbus A330.
Selain itu, Perseroan juga menjalankan overhaul dan shop visit untuk komponen utama seperti engine, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna memastikan performa armada tetap optimal.
(art/naw)





























