Logo Bloomberg Technoz

“Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini.” ujar Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC.

Swap minyak Brent naik usai perang Iran./dok Bloomberg

Ancaman tersebut muncul di tengah konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Iran sebelumnya juga memperingatkan kapal tanker minyak yang menuju negara-negara yang dianggap musuh dapat menjadi target, sehingga berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut dapat memicu gejolak besar di pasar energi global.

Ketegangan geopolitik di kawasan itu telah memicu volatilitas harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.

Pasar energi global kini memantau perkembangan konflik secara ketat karena potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah dapat mendorong lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan risiko inflasi global.

Pelepasan Cadangan Minyak

Para pemimpin dunia, termasuk anggota Kelompok Tujuh (G7) dan Uni Eropa (UEA), tengah mempertimbangkan langkah yang akan diambil sebagai respons terhadap dampak perang terhadap perekonomian global.

Christian Bueger, profesor hubungan internasional di University of Copenhagen sekaligus pakar keamanan maritim, mengatakan Eropa akan menghadapi “krisis besar pasokan energi” jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

“Bagi industri pelayaran saat ini, tidak mungkin untuk melintasi Selat Hormuz,” kata Bueger kepada Al Jazeera.

“Jika dalam waktu dekat tidak ada sinyal yang lebih kuat bahwa mereka setidaknya bisa mencoba melewati selat tersebut, maka kita akan menghadapi krisis besar di sektor pelayaran, yang bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.”

Pada Rabu pekan ini, International Energy Agency (IEA) mengumumkan bahwa 32 negara anggotanya secara bulat sepakat untuk melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka guna menekan harga.

“Ini adalah langkah besar yang bertujuan meredakan dampak langsung dari gangguan di pasar,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam pernyataan dari kantor pusat lembaga tersebut di Paris.

“Namun perlu ditegaskan, hal terpenting untuk mengembalikan aliran minyak dan gas yang stabil adalah dimulainya kembali transit melalui Selat Hormuz,” tambahnya.

IEA menyatakan pasokan cadangan tersebut akan tersedia “dalam jangka waktu yang sesuai” bagi masing-masing negara anggota, tanpa memerinci lebih lanjut.

Menteri Ekonomi dan Energi Jerman Katherina Reiche sebelumnya mengatakan negaranya akan mengikuti kebijakan pelepasan cadangan tersebut.

Austria juga menyatakan akan menyediakan sebagian cadangan minyak daruratnya serta memperpanjang cadangan gas strategis nasional.

Sementara itu, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang mengatakan akan melepas sekitar 80 juta barel dari cadangan minyak swasta dan nasional.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negara tersebut—yang sekitar 70% impor minyaknya melewati Selat Hormuz—akan mulai melepas cadangan tersebut pada Senin.

(fik/wdh)

No more pages