Logo Bloomberg Technoz

Untuk mengurangi potensi kemacetan di wilayah tersebut, pemerintah akan melakukan pengaturan terhadap putaran balik kendaraan. Pembatasan ini dinilai efektif untuk menjaga arus kendaraan tetap lancar.

Dinas Perhubungan Jawa Barat dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional akan menutup 47 putaran balik dan hanya membuka delapan titik putaran balik di ruas jalan tersebut.

Jalur Utama yang Diprediksi Mengalami Kemacetan

Selain jalur Simpang Jomin dan Cikopo, terdapat beberapa ruas jalan lain yang juga diprediksi mengalami peningkatan volume kendaraan. Jalur-jalur ini menjadi perhatian karena sering dilalui pemudik menuju berbagai wilayah di Jawa Barat.

Beberapa jalur utama yang diperkirakan mengalami kepadatan kendaraan selama musim mudik antara lain:

  • Simpang Jomin – Simpang Mutiara – Cikopo

  • Ciawi – Cibadak – Sukabumi

  • Ciawi – Simpang Gadog – Puncak (Kabupaten Bogor)

  • Simpang Susun Cileunyi – Nagreg (Kabupaten Bandung)

  • Limbangan – Malangbong

  • Gentong

  • Pelumbon – Kadawung – Cirebon

Jalur Ciawi menuju Cibadak hingga Sukabumi menjadi salah satu jalur penting bagi pemudik yang menuju wilayah selatan Jawa Barat. Ruas jalan ini biasanya mengalami peningkatan arus kendaraan ketika musim mudik tiba.

Kemacetan juga diprediksi terjadi di jalur Ciawi menuju Simpang Gadog hingga kawasan Puncak di Kabupaten Bogor. Jalur ini selain menjadi rute mudik juga merupakan kawasan wisata yang sering dipadati kendaraan.

Untuk mengurangi kepadatan di jalur tersebut, kepolisian akan menerapkan sistem ganjil genap bagi kendaraan yang melintas. Selain itu, sistem satu arah juga akan diberlakukan pada waktu tertentu.

Sementara itu, aparat Satuan Polisi Pamong Praja akan melakukan penertiban aktivitas masyarakat yang berpotensi menghambat arus lalu lintas. Penertiban ini dilakukan agar kendaraan dapat bergerak lebih lancar. 

Antisipasi Kemacetan di Wilayah Bandung

Selain wilayah Bogor dan Sukabumi, kawasan Bandung juga diprediksi mengalami peningkatan volume kendaraan selama musim mudik. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Simpang Susun Cileunyi.

Simpang susun ini merupakan pertemuan arus kendaraan dari berbagai jalur utama. Pada musim mudik, volume kendaraan yang melintas di kawasan tersebut biasanya meningkat secara signifikan.

Selain Cileunyi, wilayah Nagreg di Kabupaten Bandung juga diprediksi mengalami kepadatan kendaraan. Jalur ini merupakan rute utama menuju wilayah Tasikmalaya dan Jawa Tengah.

Untuk mengatasi kemacetan di wilayah tersebut, pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah teknis. Salah satunya adalah penggunaan alat pembaca kartu tol elektronik portabel atau mobile reader.

Perangkat tersebut memungkinkan petugas memproses transaksi secara lebih cepat ketika terjadi antrean kendaraan. Dengan demikian, waktu tunggu kendaraan dapat dikurangi.

Jalur Lain yang Berpotensi Macet

Selain jalur utama yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula sejumlah ruas jalan lain yang diprediksi mengalami kepadatan kendaraan. Salah satunya adalah jalur Limbangan hingga Malangbong.

Jalur ini merupakan rute penting bagi kendaraan yang menuju wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Ketika arus mudik meningkat, kendaraan di jalur tersebut sering mengalami perlambatan.

Selain itu, kawasan Gentong juga diprediksi mengalami peningkatan volume kendaraan. Jalur ini memiliki karakteristik jalan yang berkelok dan menanjak sehingga membutuhkan pengaturan lalu lintas yang baik.

Sementara itu, jalur Pelumbon menuju Kadawung hingga Cirebon juga diprediksi mengalami kepadatan kendaraan. Jalur ini merupakan akses penting menuju wilayah pantai utara Jawa.

Pemerintah daerah akan menertibkan parkir di pinggir jalan serta aktivitas pedagang kaki lima yang menggunakan badan jalan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi hambatan di jalur tersebut.

Jalur Alternatif untuk Menghindari Kemacetan

Selain melakukan pengaturan lalu lintas di jalur utama, pemerintah juga menyiapkan sejumlah jalur alternatif bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik. Jalur alternatif ini diharapkan dapat membantu mengurangi kepadatan kendaraan.

Di wilayah utara Jawa Barat, terdapat delapan jalur alternatif yang dapat digunakan pemudik, yaitu:

  • Sukamandi – Kalijati (22 km)

  • Pamanukan – Subang (31 km)

  • Kadipaten – Jatitujuh – Jatibarang (40,7 km)

  • Haurgeulis – Patrol (19 km)

  • Cikamurang – Jangga (35 km)

  • Budur – Tegalgubug – Jagapura – Mundu (32 km)

  • Losari – Ciledug – Cidahu – Kuningan (95 km)

  • Cirebon – Sumber – Rajagaluh – Majalengka (32 km)

Sementara itu, di wilayah tengah Jawa Barat terdapat empat jalur alternatif yang dapat digunakan pemudik, yaitu:

  • Subang – Lembang – Bandung (41 km)

  • Sumedang – Jalan Cagak – Wanayasa – Purwakarta (85 km)

  • Talaga – Bantarujeg – Wado – Sumedang (79 km)

  • Kuningan – Cikijing – Majalengka – Kadipaten (45 km)

Untuk wilayah selatan Jawa Barat, terdapat lima jalur alternatif yang bisa dipilih oleh pemudik:

  • Garut – Banyuresmi – Leuwigoong – Kadungora – Bandung (78 km)

  • Sasak Beusi – Cibatu – Leles (19 km)

  • Banjar – Manonjaya – Tasikmalaya (44 km)

  • Malangbong – Wado (15 km)

  • Parakan Muncang – Warung Simpang (9 km)

Dengan berbagai jalur alternatif tersebut, masyarakat diharapkan dapat memilih rute perjalanan yang lebih fleksibel. Perencanaan perjalanan yang baik akan membantu pemudik mencapai tujuan dengan lebih aman dan nyaman selama musim mudik Lebaran 2026.

(seo)

No more pages