“Berkoordinasi dengan pemerintah, Pertamina Group menerapkan metode Regular, Alternative and Emergency dalam menentukan metode rantai pasok yang paling efektif dan aman untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan memastikan distribusi berjalan lancar,” ungkap Vega.
Vega menambahkan bahwa saat ini seluruh rantai pasok dan distribusi energi tetap dalam kondisi terjaga, baik di perairan internasional maupun dalam negeri.
Dia menambahkan saat ini setidaknya terdapat 345 armada kapal di bawah pengelolaan Pertamina Group.
Sebelumnya, beredar video yang menarasikan dua tanker milik Pertamina tersebut sudah berhasil melewati Selat Hormuz. Akan tetapi, video tersebut merupakan hasil buatan kecerdasan buatan atau AI.
Sekadar informasi, PT Pertamina (Persero) mengungkapkan terus memantau perkembangan dinamika di jalur perdagangan migas dunia di Selat Hormuz, guna terus memastikan dua kapal tanker perseroan dalam kondisi aman.
Sekretaris Perusahaan Pertamina Arya Dwi Paramita mengungkapkan perseroan turut berkoordinasi secara intensif dengan kementerian dan lembaga terkait, utamanya dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
“Iya, jadi kami terus monitor perkembangan dari Selat Hormuz dan juga tentunya kami mengedepankan koordinasi dengan teman-teman dari kementerian dan lembaga terkait,” kata Arya kepada awak media di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Senin (9/3/2026) malam.
Arya berharap dua tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tersebut dapat segera melintasi Selat Hormuz sehingga dapat mengantar komoditas migas yang diangkut ke Indonesia.
“Tentunya kami juga mohon doanya dari semua masyarakat dan juga teman-teman agar tim kita yang berada di sana bisa segera kembali dan tentunya ini harapan keselamatan dari aset dan juga pekerja kita di sana terus kami monitor dan kami upayakan yang terbaik untuk mereka,” ucap Arya.
Belum diketahui berapa kapasitas tanker minyak PIS yang terjebak di Selat Hormuz.
Namun, berdasarkan data pelacakan Kpler, saat ini setidaknya terdapat 40 kapal tanker minyak berkapasitas sangat besar atau very large crude carrier (VLCC) alias supertanker, yang masing-masing mengangkut sekitar 2 juta barel minyak dan sedang menunggu di Teluk Persia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia. Sebagai jalur esensial bagi perdagangan energi global, selat ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sejak perang pecah, kapal-kapal tanker menghindari titik nadi ini karena risiko yang terus meningkat, termasuk ancaman Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas.
Puluhan kapal tanker minyak bermuatan penuh berlabuh di Teluk Persia setelah serangan di dekat Selat Hormuz hampir menutup jalur air tersebut, mengganggu logistik regional, memperlambat ekspor, dan mengancam produksi jangka pendek.
(azr/ros)






























