Dinamika geopolitik menjadi sentimen pendongkrak harga emas. Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran memburuk di tengah upaya mencapai kesepakatan soal nuklir.
Pemerintah AS menerapkan sanksi terhadap lebih dari 30 entitas yang membantu penjualan minyak dan senjata Iran. Kementerian Keuangan AS sudah menempatkan individu maupun entitas di Timur Tengah yang membantu Teheran mengembangkan misil balistik dan persenjataan canggih.
Langkah ini menjadi penekan bagi Iran, yang akan menjalani dialog nuklir dengan AS di Jenewa (Swiss) pekan ini.
Selain hubungan dengan Iran, investor juga sepertinya memantau perkembangan kebijakan tarif di AS. Setelah dibatalkan oleh Mahkamah Agung, pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan bersiap menerapkan tarif global sebesar 15%.
Kepala Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengungkapkan, Presiden Trump akan segera meneken instruksi untuk menaikkan tarif global sebesar 15%.
“Jadi saat ini, seperti yang sudah kita dibicarakan, 10% sudah siap. Nantinya akan ada pengumuman untuk naik menjadi 15% jika dirasa sudah layak,” tegas Greer dalam acara Surveillance di Bloomberg Television.
Emas adalah aset yang dipandang aman (safe haven asset). Saat situasi sedang bergejolak, biasanya emas menjadi pilihan investor untuk mengamankan portofolio mereka.
(aji)





























