“Jadi ga menemukan sumur baru, sumur lama,” kata Bahlil.
Adapun, lifting minyak Indonesia sepanjang 2025 tercatat 605,8 ribu bph atau melebihi target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebanyak 605 ribu bph.
Realisasi tersebut mencapai 100,05% dari target APBN 2025 sebanyak 605 ribu bph.
Realisasi tersebut sekaligus menandakan lifting minyak Indonesia berhasil naik untuk pertama kalinya dalam 9 tahun terakhir.
Dari sisi gas, produksi siap jual sepanjang 2025 tercatat mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari (boepd), di bawah target APBN sebanyak 1.005 ribu boepd.
Ekplorasi Lanjutan Cepu
Sebelumnya, pemerintah bersama dengan EMCL mendorong proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) untuk mengerek lifting dari Blok Cepu.
Proyek itu mencakup pengeboran empat sumur produksi baru, dilaksanakan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia menggunakan rig canggih buatan dalam negeri.
Program peningkatan produksi migas ini dimulai pada 2024 dengan target penyelesaian pada 2026.
Proyek itu diharapkan dapat mengerek lifting hingga 30.000 barel per hari. Adapun, nilai investasi dari proyek peningkatan lifting lapangan Banyu Urip, Blok Cepu diperkirakan mencapai US$4 miliar.
“ExxonMobil sangat berkomitmen dan loyal dengan Indonesia untuk berpartisipasi dalam ketahanan energi nasional,” kata Presiden ExxonMobil Indonesia Wade Floyd saat seremoni peresmian proyek secara hibrida dari Lapangan Banyu Urip tahun lalu.
Cadangan migas di Blok Cepu ditemukan sejak 2001. Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005 dengan EMCL sebagai operator.
Anak usaha ExxonMobil Corporation itu memegang 45% saham partisipasi, bersama Pertamina EP Cepu yang memegang 45% saham dan Badan Kerja Sama Blok Cepu (BKS) dengan 10% saham.
Rencana pengembangan lapangan disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 15 Juli 2006. Cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip saat itu diperkirakan sebesar 450 juta barel.
(naw)






























