Ia menilai, kondisi fiskal pemerintah turut berpengaruh terhadap prospek industri. Meski pemerintah memiliki kas sekitar Rp240 triliun dan cadangan devisa sekitar US$1,4 miliar, menurutnya hal tersebut tidak serta-merta menjadi ruang leluasa untuk mendorong pertumbuhan industri.
“Ruang fiskal kita pendek. Banyak digunakan untuk bayar utang, kebutuhan birokrasi, TNI, Polri. Maka ruang fiskal untuk stimulus industri makin kecil,” katanya.
Menurut Danang, apabila belanja pemerintah terbatas, maka belanja publik dan pelayanan juga akan tertekan. Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih. Kondisi itu membuat pelaku usaha masih berhitung terhadap proyeksi pertumbuhan ke depan.
Kendati demikian, ia tetap menyatakan optimisme terhadap kemampuan pemerintah menghadapi tantangan yang ada. Ia menekankan pentingnya tindakan konkret dibanding sekadar pernyataan publik.
Danang mencontohkan langkah reformasi di sektor kepabeanan dan cukai yang dinilai berdampak langsung terhadap industri tekstil. Ia menyambut baik upaya investigasi dan penegakan hukum terhadap dugaan fraud yang menghambat arus barang.
“Tidak perlu banyak public speaking, yang penting tindakan. Upaya debottlenecking seperti itu yang membuat kami optimistis,” ujarnya.
Menurutnya, tindakan nyata yang langsung menyasar persoalan di lapangan akan meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan mendorong perbaikan iklim industri secara bertahap.
(ell)





























