Para pelaku pasar memanfaatkan aksi jual awal pekan lalu untuk memburu saham-saham murah, mengalihkan tren ke sektor siklikal dan menjauh dari sektor teknologi, ujar Tony Sycamore, analis di IG Sydney. Ia menambahkan bahwa "dorongan dari Wall Street dan efek pemilu Jepang akan menciptakan sesi risk-on (minat risiko tinggi) di pasar saham Asia dalam jangka sangat pendek," ujarnya.
Keberhasilan LDP meraih proporsi kursi tertinggi dibandingkan partai mana pun dalam sejarah pemilu pasca-perang di Jepang memicu kekhawatiran akan stimulus yang didanai oleh utang. Banyak investor menilai mandat kuat ini akan membuat Takaichi semakin leluasa menambah beban utang Jepang yang sudah sangat besar.
Pandangan umum yang berkembang adalah Takaichi mendukung stimulus kebijakan moneter dan fiskal, dan "ia telah memenangkan mandat kuat untuk menjalankan agenda tersebut," kata Jason Wong, pakar strategi di Bank of New Zealand. Hal ini "memperkuat prospek Yen yang lemah dan tekanan pada obligasi pemerintah Jepang (JGB) berjangka panjang."
Reli pada Jumat mendorong S&P 500 kembali ke posisi impas untuk sepekan. Meski demikian, saham-saham AS diperkirakan masih menghadapi tekanan jual pada pekan ini dari dana algoritmik pengikut tren, menurut meja perdagangan Goldman Sachs Group Inc.
“Ketidakmampuan untuk mentransfer risiko dengan cepat cenderung menghasilkan pergerakan intraday yang lebih bergejolak dan menunda stabilisasi pergerakan harga secara keseluruhan,” tulis tim meja perdagangan Goldman, termasuk Gail Hafif dan Lee Coppersmith, dalam catatan kepada klien pada Jumat.
Di sisi lain, Baht Thailand terpantau stabil setelah hasil pemilu hari Minggu menunjukkan partai penguasa Bhumjaithai berada di posisi terdepan untuk membentuk koalisi. Hasil ini berpotensi mengangkat pasar saham dan mata uang Thailand karena menjanjikan kontinuitas kebijakan, meredakan kekhawatiran akan kelumpuhan politik.
"Kontinuitas kebijakan secara keseluruhan adalah skenario yang pada akhirnya menghasilkan stabilitas," ungkap Brendan McKenna, pakar strategi di Wells Fargo, New York. "Pasar biasanya nyaman dengan kejelasan, dan kemenangan partai berkuasa menawarkan sedikit kejelasan.”
Investor global kini menantikan serangkaian laporan ekonomi AS yang diharapkan memberi petunjuk kapan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan kembali memangkas suku bunga. Fokus utama tertuju pada data laporan ketenagakerjaan Januari yang akan dirilis Rabu dan angka inflasi dua hari setelahnya.
Jadwal rilis yang padat ini terjadi akibat penutupan sebagian pemerintah (government shutdown) bulan lalu yang sempat menunda beberapa rilis data ekonomi penting. Saat ini, pelaku pasar melihat peluang kurang dari 20% bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada bulan depan, setelah para pembuat kebijakan memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% pada Januari.
Sementara itu di sektor komoditas, harga bijih besi akan menjadi sorotan setelah pelabuhan-pelabuhan utama di Australia ditutup akibat ancaman siklon tropis di pantai barat. Wilayah tersebut merupakan pusat operasi minyak dan gas.
(bbn)

























