Namun, di sisi lain, Ateng menggarisbawahi, harga rerata CPO sepanjang 2025 masih mengalami koreksi. Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives Exchange, harga CPO terkoreksi 8,87%.
Pasar CPO sangat fluktuatif. Berbagai ketidakpastian soal skenario ekonomi global dan kebijakan tarif membuat harga mencapai titik tertinggi di MYR 4.650/ton dan terendahnya di MYR 3.725/ton,” kata Sandeep Singh, Founder The Farm Trade, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Ke depan, Singh memperkirakan peningkatan permintaan pada periode Ramadan-Idul Fitri serta risiko penurunan produksi di Indonesia bisa menahan harga CPO di level MYR 3.900/ton.
Namun, pada 2026 ini, harga CPO masih akan rentan karena dinamika ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, dan perkembangan harga minyak bumi.
Dalam waktu dekat, setidaknya hingga kuartal I-2026, harga CPO diperkirakan bisa mengalami reli. Trader veteran Dorab Mistry memperkirakan harga CPO bisa menyentuh MYR 5.500/ton, yang bila tercapai maka menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
“Ini bisa tercapai jika Indonesia melanjutkan penyitaan lahan kelapa sawit dan menerapkan kebijakan B50,” tegas Mistry, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(lav)































