Dari jumlah tersebut, kunjungan melalui pintu masuk utama mencapai 1,12 juta, sedangkan lewat pintu masuk perbatasan sebanyak 182,8 ribu kunjungan.
BPS juga mencatat jumlah kunjungan wisman pada Desember 2025 naik 17,25% secara bulanan (month-to-month/mtm) serta meningkat 14,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). “Dengan demikian, total jumlah wisman mencapai 1,41 juta kunjungan,” kata Ateng.
Ateng menambahkan, capaian 2025 kini mendekati kondisi sebelum pandemi. “Namun demikian, masih lebih rendah dari tahun 2019 yakni sekitar 16,1 juta kunjungan. Tinggal sedikit lagi bedanya,” ujarnya.
Dari sisi kebangsaan, wisman asal Malaysia menjadi yang terbanyak dengan kontribusi 17,3% dari total kunjungan. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar 14,5% dan Australia sebesar 11,0%. “Jika dibandingkan November 2025, terjadi peningkatan dari ketiga negara tersebut. Begitu juga jika dibandingkan Desember 2024,” kata Ateng.
Kunjungan wisman terbanyak tercatat melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, yang didominasi wisatawan asal Australia. Ateng menyebut kenaikan di bandara tersebut didorong momentum libur akhir tahun.
“Terjadi kenaikan di Bandara Ngurah Rai yang didorong oleh Nataru serta liburan sekolah di berbagai negara,” ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, BPS mencatat rata-rata wisman pada April 2025 menghabiskan sekitar US$1.286,84 atau sekitar Rp21 juta selama berada di Indonesia dengan lama tinggal rata-rata 9,74 malam.
Pengeluaran terbesar digunakan untuk akomodasi serta makan dan minum, dengan porsi mencapai 56,88% dari total belanja wisatawan. Secara rata-rata sepanjang 2025, wisman menghabiskan sekitar US$1.267,07 selama kunjungannya di Indonesia.
Berdasarkan kawasan asal, sekitar 6,3 juta kunjungan atau 41,3% berasal dari ASEAN, yang mencatat pertumbuhan tertinggi naik 32,8% secara tahunan.
Namun, Ateng mencatat wisatawan asal ASEAN memiliki rata-rata lama tinggal terpendek. “Wisman negara-negara ASEAN rata-rata kunjungan hanya 4,33 hari dengan total pengeluaran sebesar US$661,91 per kunjungan,” ujarnya.
Sebaliknya, wisatawan asal Eropa menjadi yang terbesar dalam pengeluaran. “Rata-rata mereka habiskan US$1.916,5 selama kunjungannya, dan lama tinggalnya cukup lama 16,75 hari,” kata Ateng.
Berdasarkan maksud perjalanan, mayoritas wisman atau sekitar 77% datang untuk berlibur, sedangkan hanya 8,45% yang berkunjung untuk tujuan bisnis. “Akomodasinya, sekitar 61,39% wisman menginap di hotel, artinya hotel masih jadi pilihan utama,” ujar Ateng.
(lav)































