Hanya saja, impor hasil minyak mengalami lonjakan pada Desember 2025 sebesar US$2,49 miliar. Posisi impor akhir tahun itu lompat US$25,54% dibandingkan dengan impor hasil minyak bulan sebelumnya di angka US$1,98 miliar.
Di sisi lain, ekspor migas sepanjang 2025 ikut mengalami tren pelemahan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
BPS mencatat ekspor migas sepanjang 2025 sebesar US$13,06 miliar atau anjlok 17,69% dibandingkan dengan posisi ekspor periode tahun sebelumnya sebesarr US$15,87 miliar.
Ekspor minyak mentah dan hasil minyak mentah masing-masing susut 30,19% dan 12,38% jika dibandingkan dengan periode 2024.
Sementara itu, ekspor gas alam turut mencatatkan penurunan tajam mencapai 17,39% ke level US$7,35 miliar, dari periode 2025 sebesar US$8,9 miliar.
Permintaan Domestik
Dinamika impor migas itu belakangan ikut didorong oleh menguatnya permintaan bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik, yang menyebabkan stok bensin di jaringan SPBU swasta habis pada akhir 2025.
Sebelumnya, pemerintah mempersingkat durasi izin impor bahan bakar minyak (BBM) oleh badan usaha swasta menjadi enam bulan dari biasanya satu tahunan.
Dalam durasi yang singkat tersebut, SPBU swasta diberi kuota impor periode 2025 sebanyak 10% lebih banyak dari realisasi tahun sebelumnya.
Dalam perkembangannya, saat realisasi impor telah terpenuhi lebih cepat akibat tingginya permintaan BBM di SPBU swasta, Kementerian ESDM menolak untuk memberikan tambahan rekomendasi kuota impor, sehingga menyebabkan gangguan pasok di hampir seluruh jaringan SPBU swasta.
Belakangan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil kebijakan agar pemenuhan kebutuhan BBM untuk SPBU swasta dilakukan oleh Pertamina melalui impor dalam format base fuel, atau BBM dasaran tanpa ada campuran bahan aditif.
Adapun, jaringan operator SPBU swasta seperti BP-AKR dan Vivo Energy telah menjual kembali BBM kepada pelanggan.
Penjualan itu dilakukan selepas dua operator jaringan SPBU swasta itu sepakat untuk membeli BBM dasaran dari Pertamina Patra Niaga.
Sementara itu, pengadaan BBM dasaran untuk Shell Indonesia masih dalam tahap negosiasi.
(naw)



























