Pandu Sjahrir menyampaikan penegasan tersebut untuk meluruskan anggapan bahwa Danantara baru memasuki pasar saham ketika kondisi pasar sedang bergejolak.
"Nggak [baru-baru ini]. [Danantara masuk bursa] dari akhir bulan Desember," kata Pandu.
Danantara juga menegaskan komitmennya untuk menempatkan sekitar 50% dana kelolaannya pada instrumen investasi di dalam negeri. Namun, alokasi tersebut tidak seluruhnya akan ditempatkan di pasar modal, meskipun instrumen saham dan obligasi tetap menjadi bagian dari strategi investasi.
Meski demikian, Pandu belum merinci porsi alokasi antara saham dan obligasi. Ia menilai keterbukaan yang terlalu detail justru berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku pasar.
Sindiran Danantara
Pandu Sjahrir sebelumnya sempat melontarkan sindiran terhadap arah kebijakan regulator di tengah tekanan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia menyinggung potensi Indonesia masuk kategori Frontier Market sebagai konsekuensi dari lambannya perbaikan pasar modal.
Pandu menilai masukan dari MSCI seharusnya menjadi peringatan keras bagi regulator untuk segera bertindak. Menurutnya, isu MSCI telah berlangsung selama beberapa bulan dan telah disampaikan secara jelas kepada pemangku kepentingan.
“Saya sendiri sudah bertemu dengan Direksi MSCI. Masukan-masukannya menurut saya sangat jelas dan regulator harus bisa bertindak,” ujar Pandu di Jakarta, dikutip Senin (2/2/2026).
Di tengah wacana potensi menuju Frontier Market, Pandu secara terbuka menyinggung daftar negara yang saat ini berada dalam kategori tersebut.
“Saya lagi baca list Frontier Market. Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Tunisia. Mungkin ini cita-cita dari regulasi, saya enggak tahu,” katanya.
Pandu menegaskan kondisi tersebut merupakan fakta yang terjadi di depan mata, dan seluruh informasi terkait ekspektasi MSCI telah disampaikan secara terbuka. Ia menyerahkan langkah lanjutan sepenuhnya kepada regulator.
“Saya serahkan balik ke peran regulator, karena ini sudah fakta terjadi di depan mata,” ujarnya.
Pandu juga mengingatkan potensi dampak besar apabila Indonesia berpindah dari status pasar saat ini ke Frontier Market. Menurut perhitungannya, perubahan tersebut berpotensi memicu arus keluar dana asing sekitar US$25 miliar hingga US$50 miliar. Ia menegaskan seluruh informasi terkait masukan MSCI telah disampaikan secara jelas dan menilai umpan balik tersebut tepat.
Sebagai latar belakang, MSCI dalam pengumumannya menyatakan investor global masih menyoroti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meskipun terdapat perbaikan data minor dari Bursa Efek Indonesia (BEI). MSCI juga mencatat kekhawatiran terkait kategorisasi pemegang saham serta potensi perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu tingkat investabilitas pasar saham Indonesia.
Sebagai langkah interim yang berlaku segera, MSCI membekukan seluruh kenaikan Free Float-adjusted Investable Factor (FIF) dan jumlah saham Indonesia, memastikan tidak ada penambahan saham ke dalam MSCI IMI, serta tidak ada kenaikan klasifikasi ukuran saham. MSCI akan kembali meninjau aksesibilitas dan klasifikasi pasar Indonesia pada Mei 2026 apabila isu transparansi kepemilikan saham tidak menunjukkan perbaikan signifikan.
(dhf)




























