Analisis teknikal juga memperlihatkan support IHSG ada di area 7.700. Adapun support kedua berpotensi menahan IHSG di level 7.200.
Support paling pesimistis bisa menyentuh 7.000 hingga menjemput 6.700.
Rebound IHSG Didorong Optimisme Pasar
Sentimen optimisme pasar pada perdagangan siang hari ini utamanya datang dari dalam negeri. Bendahara Negara Purbaya memastikan pendirian tersebut sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.
“Yang saya bisa pastikan adalah fondasi ekonomi kita tidak bermasalah. Akan semakin cepat ke depan. Ini mungkin orang shock dengan possibility pasar kita dianggap frontier,” tutur Menteri Keuangan.
Dua indikator utama memastikan keyakinan tersebut. Pertama adalah kinerja manufaktur, sedang yang kedua Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di level 51,2 pada Desember 2025. PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang sedang ekspansif, bukan kontraksi.
“Sektor manufaktur Indonesia menutup 2025 dengan perbaikan yang berkelanjutan. Fase ekspansi bertahan selama lima bulan beruntun,” sebut S&P Global Market Intelligence.
Selanjutnya konsumsi rumah tangga masih cukup solid. Tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terus berada di atas 100, pertanda konsumen percaya diri memandang situasi ekonomi saat ini hingga enam bulan mendatang. Pada 2025, rata–rata IKK berada di level 120,9.
Ditambah lagi, Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan meningkat dan mendekati level 6%, seiring kinerja ekonomi yang dinilai solid sepanjang 2025.
“Pertumbuhan kami perkirakan akan meningkat. Setelah tahun 2025 sekitar 4,7% sampai 5,5%, tahun 2026 ini kami perkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 4,9% sampai 5,7%. Dengan titik tengah adalah 5,3%,” kata Perry dalam agenda Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia.
The Fed
Kabar terbaru dari global juga datang dari sinyal Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve diharapkan jadi pendorong IHSG. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu memutuskan dengan suara 10 banding 2 mempertahankan suku bunga acuan di rentang level 3,5-3,75%.
Adapun dua anggota FOMC, yakni Deputi Gubernur Christopher Waller dan Stephen Miran, tercatat berbeda pendapat dengan mengusulkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Yang juga jadi perhatian pasar, Gubernur The Fed Jerome Powell tidak lama lagi akan menyelesaikan masa jabatannya. Pengganti Powell diestimasikan merupakan sosok yang lebih dovish, pro kebijakan moneter longgar.
Pelaku pasar perlahan–lahan melihat era selepas Powell. Gubernur berikutnya mungkin akan jauh lebih dovish. Sikap kebijakan moneter yang cenderung melonggar berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kuat.
Tim riset Phillip Sekuritas menyebut, Federal Reserve mengisyaratkan akan menentukan arah kebijakan dari pertemuan ke pertemuan (meeting by meeting) pada 2026 setelah menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali tahun lalu.
Dalam pernyataan kebijakannya, Federal Reserve mengatakan aktivitas ekonomi terus berkembang dengan laju yang solid, meskipun pertumbuhan lapangan kerja rendah, dan tingkat pengangguran menunjukkan tanda–tanda mulai stabil.
Panin Sekuritas memberikan catatan, “Kami melihat risiko signifikan untuk IHSG, karena konsentrasi portofolio saham konglomerasi yang berkontribusi ~40% terhadap IHSG, sehingga jika ada penurunan 30–40% untuk saham konglomerasi, akan memberikan ruang koreksi hingga 12-16% untuk IHSG.”
Panin Sekuritas masih merekomendasikan beberapa saham potensial seperti misalnya sektor metal pertambangan yang memiliki ekspor yang kuat serta perbaikan laba bersih seperti saham EMAS, MDKA, dan MBMA.
“Kami juga melihat sektor yang relatif defensif menarik untuk dilihat seperti JPFA dan MYOR,” sebut analisis Panin Sekuritas.
(fad/aji)





























