Logam dasar mencatat awal yang kuat pada 2026. Selain pelemahan dolar yang dipicu oleh kebijakan Trump yang tidak konsisten serta serangannya terhadap Federal Reserve, harga logam juga terdorong oleh rotasi investasi ke aset berwujud atau hard assets.
Pergerakan ini dipacu oleh apa yang dikenal sebagai debasement trade, di mana investor menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah karena kekhawatiran terhadap defisit fiskal.
Di sisi lain, kendala pasokan juga membantu menopang harga sejumlah logam.
Hal ini terlihat jelas pada aluminium: China membatasi kapasitas peleburan, dan belum jelas seberapa cepat produsen di negara lain dapat meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh dari transisi energi.
Goldman Sachs Group Inc. menaikkan proyeksi harga aluminium “menyusul kinerja harga yang kuat dan sentimen bullish investor yang berkelanjutan,” tulis bank tersebut dalam sebuah catatan.
Bank ini, yang dalam beberapa bulan terakhir termasuk pihak yang cukup bearish terhadap aluminium, memperkirakan harga rata-rata aluminium mencapai US$3.150 per ton pada paruh pertama tahun ini, naik dari US$2.575, meski masih berada di bawah harga saat ini.
Harga aluminium naik 1,2% menjadi US$3.246,50 per ton di London Metal Exchange pada pukul 10.54 waktu Shanghai.
Harga sempat menyentuh US$3.252 sebelumnya, level tertinggi sejak April 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Harga tembaga naik 0,9% dan seng melonjak 1,7%.
(bbn)
































