Logo Bloomberg Technoz

2. Bangun Persahabatan yang Lebih Sehat

Persahabatan berperan besar dalam kesehatan fisik dan mental, mulai dari daya tahan tubuh hingga risiko penyakit jantung. Bahkan, hubungan sosial yang baik dikaitkan dengan usia harapan hidup yang lebih panjang.

Namun, kualitas hubungan sama pentingnya dengan kuantitas. Menjadi teman yang konsisten, hangat, dan ikut merayakan kabar baik orang lain terbukti memperkuat hubungan sekaligus meningkatkan suasana hati kita sendiri.

3. Mulai Hobi yang Bersifat Sosial

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mencoba hobi baru. Aktivitas kreatif seperti melukis, menari, atau bermain musik dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang dan fokus pada saat ini.

Hobi yang dilakukan bersama orang lain memberikan manfaat ganda: kesenangan pribadi dan koneksi sosial. Olahraga tim, misalnya, memicu pelepasan endorfin sekaligus rasa kebersamaan melalui tujuan bersama.

4. Salurkan Amarah dengan Cara yang Sehat

Amarah sering dianggap emosi negatif, padahal jika dikelola dengan baik, energi dari amarah dapat diarahkan ke hal produktif. Penelitian menunjukkan amarah yang disalurkan secara tepat dapat meningkatkan performa fisik, ketekunan, bahkan kreativitas.

Kuncinya bukan menekan amarah, melainkan mengendalikannya. Menunda reaksi, mengambil jarak emosional, dan menyalurkan energi ke aktivitas fisik atau kreatif dapat mencegah amarah berubah menjadi agresi.

5. Biasakan Bersyukur Setiap Hari

Menulis tiga hal yang disyukuri setiap hari adalah salah satu latihan sederhana dengan dampak besar. Studi menunjukkan kebiasaan ini meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan gejala depresi, bahkan setelah dilakukan hanya selama satu bulan.

Fokus pada hal-hal kecil yang berjalan baik membantu otak lebih peka terhadap sisi positif kehidupan, bukan hanya masalah dan kekurangan.

6. Gunakan Ponsel Secara Lebih Cerdas

Ponsel sering dianggap merusak konsentrasi dan kesehatan mental, dan sebagian anggapan itu memang benar. Namun, teknologi juga bisa dimanfaatkan secara positif.

Aplikasi catatan, pengingat, dan manajemen tugas terbukti membantu mengurangi beban kognitif. Mengatur notifikasi agar tidak muncul terus-menerus atau meninggalkan ponsel di ruangan lain untuk sementara juga dapat meningkatkan fokus dan ketenangan.

7. Rangkullah Periode Sulit, Bukan Melawannya

Cuaca gelap, hari yang panjang, atau fase hidup yang berat kerap menurunkan suasana hati. Namun, penelitian menunjukkan bahwa mengubah cara pandang terhadap masa sulit dapat membantu menjaga kesejahteraan.

Menemukan sisi positif—seperti momen kebersamaan, keindahan alam, atau waktu istirahat—membantu pikiran beradaptasi dan mengurangi dampak stres jangka panjang.

8. Bernyanyi Lebih Sering

Bernyanyi bukan sekadar hiburan. Aktivitas ini melibatkan otak, tubuh, emosi, dan interaksi sosial sekaligus. Bernyanyi terbukti membantu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan rasa terhubung dengan orang lain.
Bernyanyi bersama orang lain bahkan memberikan manfaat psikologis yang lebih besar dibanding bernyanyi sendirian.

9. Fokus pada Langkah Kecil yang Konsisten

Alih-alih membuat resolusi besar yang sulit dipertahankan, penelitian menyarankan fokus pada perubahan kecil yang realistis. Kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus justru lebih efektif membentuk kesejahteraan jangka panjang.

Tahun 2026 tidak harus sempurna. Cukup sedikit lebih baik dari kemarin—dan itu sudah sangat berarti.

(dec/spt)

No more pages