Sementara itu, tren belanja online akhir tahun terlihat pada aktivitas transaksi di hari belanja online nasional (Harbolnas) 12.12 lalu. E-Commerce Shopee dan Lazada mencatat terjadinya tren pergeseran belanja orang Indonesia di akhir tahun ini.
Senior Director of Business Development Shopee Indonesia Adi Rahardja menuturkan Shopee mencatat adanya peningkatan minat pengguna terhadap produk lokal, di mana berbagai kampanye dan fitur yang tersedia dimanfaatkan untuk menemukan serta mendukung UMKM dan brand lokal.
Temuan ini menunjukkan bahwa kampanye 12.12 tidak hanya menjadi ajang belanja, tetapi juga wadah bagi pengguna untuk semakin mengenal dan memilih produk lokal. Memasuki momen akhir tahun, antusiasme masyarakat dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan perayaan bersama pilihan produk dari UMKM dan brand lokal juga semakin meningkat.
“Hal ini tecermin dari total produk lokal yang terjual dari kategori makanan ringan meningkat hingga 4 kali lipat, dan kategori dekorasi rumah juga ikut meningkat hingga 3 kali lipat di puncak kampanye,” ujarnya dalam siaran pers.
“Tren ini menggambarkan bagaimana kualitas produk lokal semakin dipercaya hingga menjadi bagian dari persiapan kebutuhan akhir tahun di rumah.”
Sementara data dari festival belanja Lazada 12.12 juga menunjukkan lonjakan penjualan di LazMall, kanal brand Lazada Indonesia, yang mencapai 600% dibandingkan hari biasa, didorong oleh tingginya kepercayaan konsumen khususnya keluarga muda.
Lonjakan ini terlihat di berbagai kategori di antaranya seperti kebutuhan rumah tangga yang meningkat 710% sedangkan fesyen meningkat sebesar 610%. Perlengkapan rumah & hobi naik 540% dan elektronik naik 230%.
Dalam kesempatan terpisah, salah satu pedagang pakaian tunik di Blok B Tanah Abang, Nia (58) mengaku omzetnya sepanjang 2025 amat lesu khususnya seusai Lebaran atau mulai April hingga saat ini.
“Tahun lalu masih bisa masih lumayan, makin parah tahun ini dari habis Lebaran sampai sekarang omzet turun 80%. Mungkin rata-rata pedagang di sini gitu semua kali. Anjlok hampir rata lah,” kata Nia saat ditemui di Tanah Abang, Kamis (18/12/2025).
Wanita paruh baya itu bercerita, satu toko biasanya bisa mendapatkan Rp5 juta - Rp10 juta per hari, namun saat ini pendapatan hanya di bawah Rp1 juta. Tahun-tahun sebelumnya, kata dia, toko tersebut bisa menjual belasan hingga puluhan baju. Akan tetapi, saat ini hanya mampu menjual 3-4 baju per hari.
“Sekarang [pendapatan] enggak nyampe, Rp500.000 saja sudah besar.”
Nia mengatakan berkurangnya pendapatan tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah pelanggan yang semakin berkurang tiap tahun. Tahun sebelumnya, dia memiliki langganan yang berasal dari berbagai wilayah di Tanah Air, kini hanya sekitar Jabodetabek yang bertahan menjadi pelanggannya.
(ain)






























