Berikut ini daftar negara-negara yang diketahui menerapkan praktik redenominasi mata uang, mengutip dari berbagai sumber:
1. Turki
Turki dinilai sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Redenominasi dilakukannya dengan mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 Lira pada tahun 2005.
Kebijakan ini dilakukan untuk menekan laju inflasi yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Bahkan Turki disebut membutuhkan waktu hingga 7 tahun lamanya untuk dapat menerapkan redenominasi ini.
Turki meredenominasi mata uang secara bertahap dengan memperhatikan stabilitas perekonomian dalam negerinya. Pada tahap awal, mata uang TL (Lira Turki yang lama) dan YTL (Lira Turki baru) beredar secara simultan selama setahun. Kemudian mata uang lama ditarik secara bertahap digantikan dengan YTL.
Pada tahap selanjutnya, sebutan 'Yeni' pada uang baru dihilangkan sehingga mata uang YTL kembali menjadi TL dengan nilai redenominasi. Selama tahap redenominasi, keadaan perekonomian tetap terjaga. Inflasi Turki pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 juga tetap stabil di kisaran 8-9%.
2. Brasil
Brazil sempat mengalami kegagalan melakukan redenominasi pada 1986-1989. Brasil melakukan penyederhanaan mata uangnya dari cruzeiro menjadi cruzado.
Namun, kurs mata uangnya justru terdepresiasi tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga mencapai ribuan cruzado untuk setiap dolar AS. Kegagalan ini disebabkan pemerintah Brasil tidak mampu mengelola hiperinflasi yang pada waktu itu mencapai 500% per tahun.
Selain itu, rendahnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah juga menjadi pangkal masalah kegagalan redenominasi pada 1986 mengingat negeri itu masih dilanda konflik politik dan tidak stabilnya pemerintahan yang mengiris kepastian berusaha.
Jalan panjang tersebut akhirnya dirasakan Brasil yang berhasil menerapkan redenominasi pada 1994.
3. Zimbabwe
Jika bicara kegagalan dalam menerapkan kebijakan redenominasi, maka Zimbabwe salah satunya. Pada 2007, tingkat inflasi di Zimbabwe bahkan mencapai 66.212%. Harga barang bisa naik beberapa kali lipat hanya dalam hitungan jam. Kondisi ini membuat masyarakat terbiasa membawa uang dalam jumlah besar hanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Uang 100 miliar dolar Zimbabwe, misalnya, hanya cukup untuk membeli tiga butir telur. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah Zimbabwe sempat melakukan tiga kali redenominasi yakni pada 2006, 2008, dan 2009.
Pada 2006, pemerintah memangkas tiga nol dari denominasi lama: ZWN1.000 menjadi ZWN1. Namun, karena peredaran uang tetap berlebihan, inflasi tidak terkendali dan upaya tersebut gagal. Inflasi bahkan melonjak hingga 1.000% pada 2007.
Upaya kedua dilakukan pada 2008 dengan mengganti kode mata uang dari ZWN ke ZWR, sekaligus memangkas 10 juta kali lipat (ZWN10.000.000.000 menjadi ZWR1). Sayangnya, redenominasi ini juga tidak berhasil karena masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap dolar Zimbabwe.
Pada 2009, pemerintah kembali mencoba melalui redenominasi ketiga. Kode mata uang berubah dari ZWR menjadi ZWL, dengan pemangkasan 12 nol (ZWR1.000.000.000.000 menjadi ZWL1). Namun, hasilnya tetap sama, dan upaya ini gagal karena warga tetap lebih memilih dolar AS sebagai alat transaksi utama.
(lav)


























