EBITDA turut naik 420,9% menjadi US$2,22 miliar atau sekitar Rp37 triliun. Marjin EBITDA meningkat menjadi 39,9%, sedangkan marjin laba kotor turun menjadi 3,1%.
Dari sisi neraca, total aset mencapai US$16,01 miliar atau sekitar Rp266,8 triliun. Total liabilitas sebesar US$9,64 miliar, sementara ekuitas naik 52,2% menjadi US$6,37 miliar.
Utang berbunga tercatat US$6,44 miliar atau sekitar Rp107,3 triliun, dengan utang bersih sebesar US$3,47 miliar atau sekitar Rp57,9 triliun.
Direktur Utama BRPT Agus Pangestu mengatakan, kinerja yang solid ini didorong oleh dampak positif berkelanjutan dari akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (ACE)pada awal tahun, yang secara signifikan memperkuat portofolio dan
basis pendapatan.
“Pendapatan didorong oleh kontribusi dari konsolidasi akuisisi Aster dalam segmen kimia kami, termasuk penambahan sub- segmen bisnis kilang. Serta kenaikan output panas bumi yang didorong, kontribusi dari uni Binary Salak serta peningkatan
pembangkit listrik tenaga angin selama periode tersebut,” jelasnya dikutip Senin (3/11/2025).
TPIA Balik Arah
T Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan sepanjang Januari–September 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, TPIA membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar US$1,29 miliar, setara dengan sekitar Rp21,5 triliun (kurs Rp16.666). Capaian ini berbalik dari posisi rugi bersih US$59,37 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih TPIA turut melesat 314,3% year on year (YoY) menjadi US$5,10 miliar atau sekitar Rp85 triliun, dibandingkan US$1,23 miliar pada sembilan bulan 2024.
Kontributor utama pendapatan berasal dari segmen kilang senilai US$2,31 miliar atau sekitar Rp38,5 triliun, yang pada periode sebelumnya belum tercatat. Kemudian, segmen kimia menyumbang US$2,69 miliar, sekitar Rp44,8 triliun, melonjak 132,8% YoY dibanding US$1,16 miliar tahun lalu. Adapun segmen infrastruktur menghasilkan US$98,9 juta atau sekitar Rp1,65 triliun, naik 33,5% YoY dari US$74,1 juta.
Dari sisi beban, total pengeluaran perseroan meningkat 301,9% YoY, dari US$1,40 miliar atau sekitar Rp23,3 triliun menjadi US$5,64 miliar. Komponen terbesar berasal dari biaya bahan baku sebesar US$4,37 miliar, sekitar Rp72,9 triliun dan biaya produksi serta manufaktur senilai US$764,43 juta, sekitar Rp12,7 triliun.
Selain itu, TPIA mencatat keuntungan dari pembelian dengan diskon sebesar US$1,81 miliar atau sekitar Rp30,2 triliun, yang sebelumnya belum tercatat pada periode 2024.
Jika digabung dengan pendapatan dan pos lainnya, total pendapatan serta pendapatan lainnya mencapai US$7,18 miliar atau sekitar Rp119,6 triliun, melesat 440,8% YoY dibandingkan US$1,33 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
(dhf)




























