Secara terpisah, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan dalam pernyataannya bahwa Hizbullah “sedang bermain api, sementara presiden Lebanon bersikap lamban,” dan mendesak adanya “penegakan maksimum.”
Presiden Lebanon Joseph Aoun, mantan kepala staf angkatan bersenjata, sebelumnya menargetkan pelucutan senjata Hizbullah sebelum akhir tahun ini. Namun, menjelang tenggat waktu tersebut, Israel menuduh Hizbullah tengah membangun kembali kemampuan militernya yang sempat hilang selama konflik pertengahan 2024.
“Mereka berusaha, tapi mereka seperti dinosaurus,” ujar diplomat senior AS Tom Barrack pada Sabtu, menyinggung upaya Beirut untuk melucuti Hizbullah di tengah krisis ekonomi yang melumpuhkan negara itu. “Ini adalah pemerintahan lumpuh yang dikendalikan oleh organisasi teroris asing.”
Menurut Barrack, Hizbullah memiliki hingga 20.000 roket dan rudal, serta sekitar 40.000 personel penuh waktu dan cadangan — dengan gaji hampir sepuluh kali lipat lebih besar daripada tentara reguler Lebanon.
Barrack, yang kini menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Turki dan utusan khusus untuk Suriah, menyarankan Lebanon agar menjalin komunikasi langsung dengan Israel dan mempertimbangkan hubungan bilateral seperti yang dicapai melalui Abraham Accords, perjanjian damai yang disponsori AS. Saat ini, kedua negara masih secara teknis berada dalam status perang.
“Kita tidak punya waktu untuk ritme diplomasi seperti ini,” kata Barrack dalam forum tahunan Manama Dialogue yang digelar International Institute for Strategic Studies di Bahrain. “Jelas Israel telah menjadi sekutu dominan dalam perubahan posisi strategis di Timur Tengah.”
Berbicara kepada wartawan, Barrack mengatakan pejabat Israel telah membagikan informasi intelijen yang menunjukkan bahwa Hizbullah sedang mempersenjatai diri kembali dengan memanfaatkan jalur penyelundupan senjata melalui Suriah, serta bukti adanya fasilitas bawah tanah untuk produksi drone di Lembah Bekaa, Lebanon timur. Ia menambahkan bahwa para pemimpin Lebanon telah membantah tuduhan tersebut.
Barrack membandingkan potensi eskalasi di Lebanon dengan perang singkat Israel melawan Iran pada Juni lalu, ketika Teheran menjadi sasaran serangan yang menewaskan sejumlah pejabat militer tinggi dan menghantam beberapa fasilitas nuklir utama.
“Jadi, Anda bisa menilai sendiri — apa yang akan terjadi jika Israel kembali bersikap agresif terhadap organisasi teroris asing lainnya,” kata Barrack.
Meskipun diwajibkan oleh perjanjian gencatan senjata untuk menarik pasukan dari Lebanon, Israel masih mempertahankan lima pos militer di titik-titik strategis sepanjang perbatasan kedua negara. Israel menawarkan untuk menarik pos tersebut jika Angkatan Bersenjata Lebanon mengambil tindakan nyata melucuti Hizbullah — yang, menurut Israel, harus dicegah agar tidak mengulangi serangan lintas batas seperti yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober 2023.
“Kami tidak akan membiarkan ancaman terhadap penduduk di wilayah utara,” tegas Katz dalam pernyataannya pada Minggu.
(bbn)



























