Setelah sukses di Ajax, Kluivert melanjutkan karier ke berbagai klub besar Eropa seperti AC Milan, Barcelona, Newcastle United, Valencia, PSV Eindhoven, dan Lille. Bersama Barcelona, ia tampil sebagai bagian dari trio menyerang mematikan bersama Rivaldo dan Luis Figo, serta mempersembahkan gelar La Liga musim 1998-1999.
Di level internasional, Kluivert menjadi andalan tim nasional Belanda dengan torehan 40 gol dari 79 laga. Ia tampil di berbagai turnamen besar termasuk Euro 2000, di mana ia menjadi top skor bersama Savo Milošević dengan lima gol dan masuk dalam tim terbaik turnamen tersebut.
Sepanjang kariernya, Kluivert mengoleksi beragam prestasi bergengsi, antara lain trofi Liga Champions UEFA 1995, beberapa gelar Eredivisie bersama Ajax, dan gelar La Liga bersama Barcelona. Ia juga pernah dinobatkan sebagai Dutch Football Talent of the Year 1995 dan masuk daftar FIFA 100.
Usai pensiun, Kluivert melangkah ke dunia kepelatihan. Ia pernah melatih Jong Twente, menjadi asisten pelatih timnas Belanda dan Kamerun, menjabat Direktur Akademi Barcelona, hingga menukangi timnas Curaçao. Pengalaman luas itu membuat PSSI menjatuhkan pilihan padanya untuk menangani Tim Garuda hingga 2027.
Di bawah asuhannya, gaya bermain Indonesia mulai diarahkan ke sistem yang lebih agresif dan terorganisasi. Kluivert menekankan transisi cepat dan permainan menyerang, seraya memberi ruang besar bagi talenta muda. Meski belum sepenuhnya stabil, publik menilai timnas kini tampil lebih berani menghadapi lawan kuat di Asia.
Namun perjalanan Kluivert juga tidak luput dari kritik. Sejumlah pengamat menilai hasil-hasil di kualifikasi menunjukkan potensi sekaligus tantangan besar bagi pelatih asal Belanda itu. Di tengah sorotan tersebut, ia berulang kali menegaskan komitmennya membangun fondasi jangka panjang bagi sepak bola Indonesia.
Kluivert kini menjadi sosok yang diawasi publik: seorang legenda Eropa yang membawa filosofi modern ke ruang ganti Garuda.
(dhf)


























