Logo Bloomberg Technoz

Model pengadaan terpusat membuat daya beli dapur MBG jauh lebih tinggi dibanding pedagang kecil. Akibatnya, pasokan ayam tersedot ke perusahaan besar, sementara pasar rakyat kekurangan stok. Celios menilai hal ini menyebabkan “kanibalisme permintaan” antara dapur MBG dan pasar tradisional.

“Mandat menjaga ketahanan pangan dijalankan dengan cara yang salah. Ini justru memicu inflasi pangan dan memperlebar ketimpangan,” ujar Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios.

Bhima menambahkan, konsumsi ayam masyarakat menurun karena harga tinggi dan anak-anak kini makan di sekolah melalui MBG. Pedagang pasar kehilangan pembeli tetap, sementara rumah tangga berpendapatan rendah terpaksa mengurangi konsumsi protein.

“MBG bukan menciptakan lapangan kerja, malah mengurangi ruang gerak UMKM,” ujarnya.

Peneliti Celios Bakhrul Fikri menilai pola distribusi MBG menciptakan insidensi regresif, di mana beban ekonomi justru menimpa kelompok berpenghasilan rendah. “Ironinya, MBG bukan hanya menyebabkan keracunan massal beberapa waktu lalu, tapi kini menimbulkan tekanan ekonomi yang sistemik bagi kelas menengah bawah,” katanya.

Sementara itu, Nailul Huda, Direktur Ekonomi Celios, menilai pemerintah perlu menghitung ulang neraca pangan nasional. Menurutnya, lonjakan permintaan tanpa peningkatan produksi menyebabkan ketidakseimbangan yang mendorong harga naik.

“Jika pasokan tidak naik, wajar harga melesat. Pemerintah harus menambah stok, misalnya lewat impor grand parent stock ayam ternak, atau menyesuaikan kembali volume MBG agar tidak membebani pasar,” jelas Huda.

Celios menilai keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya porsi makanan yang dibagikan, melainkan sejauh mana program ini menumbuhkan ekonomi rakyat bawah tanpa mengganggu stabilitas harga pangan.

“Program ini idealnya melibatkan sekolah, komunitas, dan UMKM lokal agar rantai ekonomi tetap hidup,” kata Media Wahyudi. “Kalau masih seperti sekarang, lebih baik MBG dihentikan dulu dan didesain ulang.”

(fik/spt)

No more pages