Media menjelaskan, Celios menemukan bahwa masyarakat sebenarnya lebih memilih bentuk bantuan langsung tunai atau beasiswa untuk anak mereka dibandingkan menerima MBG. Berdasarkan hasil survei, dari lima opsi bantuan yang ditawarkan—yakni cash transfer, beasiswa pendidikan, bantuan kesenangan anak, bantuan kebutuhan pendidikan, dan MBG—program MBG berada di posisi terakhir.
“Kalau orang tua diberi pilihan, mereka lebih memilih bantuan tunai dan beasiswa,” ujar Media.
Celios juga mengestimasi, jika nilai anggaran MBG dialihkan menjadi bantuan tunai, masyarakat miskin dapat menerima sekitar Rp50.000 per hari. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan nilai manfaat MBG yang hanya sekitar Rp10.000 per porsi.
“Kalau program ini diganti dengan cash transfer, penerima bisa memperoleh manfaat lima kali lipat lebih besar,” jelasnya.
Celios berencana merilis laporan evaluasi lengkap terkait efisiensi dan dampak program MBG dalam beberapa minggu ke depan. Lembaga tersebut sebelumnya telah menyoroti ketidaktepatan sasaran serta potensi pemborosan anggaran dalam penyaluran program ini.
Dalam kesempatan yang sama, Celios bersama dengan Unitrend, Transparency International Indonesia, Lapor Sehat, LBH Jakarta, dan Bareng Warga meluncurkan MBG Watch yang merupakan website yang dibuat secara independen untuk melaporkan kejadian terkait dengan program MBG.
Untuk diketahui, program MBG memunculkan berbagai polemik yang timbul di masyarakat belakangan ini. Atas kejadian tersebut, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat kasus keracunan MBG terbaru di dua provinsi, yakni Sumatera Barat dengan 122 anak dan Kalimantan Tengah 27 anak.
Lima provinsi dengan jumlah korban tertinggi pekan lalu; yakni Jawa Timur 620 anak, Jawa Barat 555 anak, Jawa Tengah 241 anak, Sumatera Barat 122 anak, dan Nusa Tenggara Timur 100 anak.
(fik/spt)



























