BGN menegaskan keamanan pangan merupakan prioritas utama dalam program MBG. Investigasi menyeluruh dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan terdapat dua faktor utama penyebab keracunan dalam Program MBG di berbagai daerah. Pertama, dikarenakan program Sistem Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru beroperasi.
“Ibu-ibu yang biasa masak untuk 4-10 orang belum tentu bisa langsung menyiapkan makanan untuk 1.000 sampai 3.000 orang. Jadi kalau ada 20 sekolah yang dilayani, hari pertama cukup 2 sekolah dulu, lalu bertahap menjadi 4 sekolah, dan seterusnya,” ujarnya.
Kedua, faktor pergantian pemasok bahan baku yang belum siap memenuhi standar. Ia mencontohkan salah satu kasus di Maluku Barat Daya, yang dimana pasokan rutin diganti supplier lokal dengan alasan kearifan lokal. Padahal, belum memiliki kapasitas yang memadai.
“Biasanya bahan dipasok supplier yang sudah rutin. Kemarin karena ingin meningkatkan kearifan lokal, diganti supplier lokal yang ternyata belum siap. Hal-hal seperti itu memang masih bisa terjadi,” katanya.
(fik/spt)





























