Logo Bloomberg Technoz

Meski Thailand selama bertahun-tahun bergejolak akibat pergantian pemerintahan dan kerusuhan sipil, Indonesia relatif menjadi sumber stabilitas. Hal itu kini mulai berubah, memaksa investor untuk mempertimbangkan kembali pendekatan mereka terhadap kedua negara.

"Thailand dipandang sedang bangkit dari keterpurukan menuju stabilitas seiring terbentuknya kabinet baru, tetapi Indonesia tampaknya bergerak ke arah sebaliknya—dari buruk ke lebih buruk," kata Xin-Yao Ng, manajer investasi di Aberdeen Investments.

Dia menambahkan bahwa ia kini meningkatkan eksposurnya ke Thailand sambil tetap mengurangi bobot kepemilikan aset-aset Indonesia.

Saham Thailand mengungguli Indonesia selama minggu-minggu gejolak politik. (Bloomberg)

Faktor utama optimisme di Thailand adalah transisi politik setelah perdana menteri baru dilantik. Anutin Charnvirakul, konservatif yang terpilih setelah pendahulunya digulingkan karena pelanggaran etik, sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali program subsidi co-payment era Covid untuk merangsang konsumsi.

Menurut data yang dikompilasi Bloomberg, baht menguat sekitar 2% terhadap dolar AS bulan ini, menjadikannya mata uang Asia dengan kinerja terbaik sejauh ini. 

Indeks acuan saham SET naik lebih dari 4% bulan ini ke level tertinggi dalam tujuh bulan, sedangkan laju penjualan saham oleh investor asing melambat. Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan mereka melepas US$21 juta saham Thailand sejauh ini pada September setelah menjual US$670 juta pada Agustus.

Prakit Siriwattanakage, direktur pelaksana di Merchant Partners Asset Management, menilai sentimen yang membaik dapat mendorong indeks ke level 1.340 pada akhir tahun. Arus masuk ke pasar saham juga akan mendukung baht.

John Foo, pendiri Valverde Investment Partners, mengatakan posisi fiskal Thailand yang relatif kuat memberi ruang bagi negara itu untuk menstimulus ekonomi dan menargetkan sektor-sektor yang membutuhkan dukungan. Ia mencatat valuasi saham Thailand saat ini cukup menguntungkan setelah sebelumnya terjadi aksi jual.

"Ini adalah kesempatan untuk meningkatkan alokasi investasi di Thailand di tengah perbaikan iklim politik dan ekonomi," tuturnya.

Investor Terguncang

Indonesia menampilkan gambaran yang sangat berbeda. Pergantian Sri Mulyani Indrawati yang tiba-tiba oleh Presiden Prabowo Subianto dengan Purbaya Yudhi Sadewa mengguncang pasar. Sri Mulyani dihormati kalangan investor global, sedangkan penggantinya—meski berjanji akan bersikap hati-hati—kurang dikenal.

“Indonesia sedang mengalami periode ketidakpastian ekonomi yang tinggi," kata Jason DeVito, manajer portofolio utama untuk utang pasar berkembang di Federated Hermes. Perubahan politik "akan menimbulkan ketidakpastian bagi investor, terutama mengingat peran Sri yang lama dalam membentuk reputasi negara ini dalam hal disiplin fiskal."

Indonesia menyuntikkan sekitar Rp200 triliun ke Himbara untuk membantu meningkatkan penyaluran kredit dan pertumbuhan, dengan memanfaatkan Rp400 triliun cadangan kas yang terkumpul dari kelebihan dari anggaran sebelumnya.

Namun, kekhawatiran mengenai arah fiskal telah muncul selama berbulan-bulan karena Prabowo mendorong langkah-langkah populis seperti program makan bergizi gratis di sekolah.

Foo dari Valverde melihat ekonomi Indonesia secara umum masih lemah, dan stimulus sekali ini hanya menawarkan bantuan jangka pendek.

Kekhawatiran serupa terhadap kesehatan fiskal Indonesia terlihat di pasar obligasi, di mana kurva imbal hasil—selisih antara obligasi dua tahun dan 10 tahun—mendekati level tercuram dalam lebih dari dua tahun. Penurunan nilai rupiah baru-baru ini memperpanjang kerugiannya terhadap dolar AS tahun ini hingga lebih dari 1,5%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia setelah rupee India. 

Purbaya berusaha keras untuk mendapat dukungan investor. Hanya beberapa hari setelah menjanjikan suntikan dana US$12 miliar ke bank-bank BUMN, dia menegaskan pemerintah akan menambah dana lagi jika diperlukan.

Bank sentral juga telah diminta untuk membantu, dengan sistem burden sharing yang dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, sejauh ini, para manajer investasi asing masih belum yakin.

"Pemerintah Indonesia masih harus membuktikan banyak hal," kata Ng dari Aberdeen. "Saya sebenarnya telah mendanai Thailand dari pasar yang lebih mahal dengan mengambil keuntungan dari China, Korea, dan sektor teknologi di Taiwan."

(bbn)

No more pages