Logo Bloomberg Technoz

Upaya ini semakin mendesak sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Hal itu mungkin sulit dicapai tanpa Israel, di mana tiga perusahaan pertahanan terbesarnya terintegrasi secara mendalam ke dalam ekonomi dan rantai pasokan militer mereka.

"Sentimen terhadap Israel mungkin negatif, tetapi pelanggan Eropa dan negara lain mencari produk terbaik, dan tidak ada cara untuk mengabaikan fakta bahwa sistem Israel telah teruji dalam pertempuran," kata Elad Kraus, Kepala Riset di Meitav Brokerage Services Ltd yang berbasis di Tel Aviv. "Sulit untuk menekan Israel melalui industri pertahanannya dengan permintaan global yang melonjak."

Tiga raksasa pertahanan Israel—Elbit Systems Ltd, Rafael Advanced Defense Systems Ltd, dan Israel Aerospace Industries—tidak hanya menjual ke Eropa; mereka memiliki operasi di lapangan melalui anak perusahaan dan kemitraan dengan perusahaan lokal.

Terlepas dari opini publik yang menentang Israel, benua Eropa mungkin akan terus membeli produk-produk negara tersebut, menurut dua pejabat senior pertahanan Israel yang berbicara dengan syarat anonim.

Ketergantungan ini mempersulit upaya Eropa untuk membujuk Israel agar mengakhiri atau setidaknya menunda operasi militernya di Gaza, yang dimulai setelah serangan Hamas dari wilayah Palestina pada Oktober 2023.

Serangan Israel sejak saat itu telah menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut, menggusur hampir seluruh penduduknya berjumlah 2 juta jiwa. Badan yang didukung PBB telah menyatakan bencana kelaparan di sejumlah wilayah tersebut setelah Israel memblokade bantuan selama tiga bulan.

Demonstrasi pecah di seluruh Barat mengutuk perang Israel, di mana beberapa di antaranya secara khusus mengecam kontraktor pertahanan negara tersebut. Pabrik-pabrik Eropa yang dimiliki perusahaan pertahanan Israel telah dirusak, termasuk pabrik Elbit di Ulm, Jerman.

Insiden di operasi Elbit di Inggris dikaitkan dengan kelompok protes Aksi Palestina, yang dilarang pemerintah Perdana Menteri Keir Starmer sebagai organisasi teroris pada Juli. Hal ini membuat perusahaan Israel itu menyembunyikan beberapa lokasinya di Uni Eropa.

Menurut juru bicara perusahaan, Elbit mengoperasikan 40 anak perusahaan di seluruh dunia, setidaknya setengahnya di Eropa. Fasilitas di Inggris, Belanda, dan Rumania baru-baru ini diperluas karena permintaan meningkat.

Perusahaan yang bermarkas di Haifa ini mempekerjakan sekitar 2.000 pekerja di seluruh benua Eropa, atau sekitar 10% dari total tenaga kerjanya, dan mengoperasikan sekolah penerbangan di Yunani yang melatih kadet dari berbagai negara anggota Uni Eropa.

Tahun lalu, penjualan Elbit ke Eropa meningkat dua kali lipat dibanding tahun 2021 menjadi US$1,8 miliar. Pada Agustus, perusahaan mengumumkan kesepakatan terbesar dalam sejarahnya—kontrak senilai US$1,6 miliar dengan negara Eropa yang tidak disebutkan namanya selama periode lima tahun.

Rafael, perusahaan milik negara Israel yang dikenal dengan sistem pertahanan rudal Iron Dome dan sistem laser Iron Beam, menjual dan memproduksi rudal melalui usaha patungan (joint venture/JV) Jerman, Euro Spike GmbH, bermitra dengan Diehl Defense dan Rheinmetall Group. 

Tahun lalu, pendapatan Rafael terbagi rata antara pasar domestik dan global, di mana Eropa menyumbang 45% dari penjualan internasionalnya.

Rafael sedang berupaya mendirikan lebih banyak JV di Jerman: Euro Dome—untuk sistem pertahanan rudal Iron Dome, dan Euro Spyder—untuk sistem pertahanan udara mobile jarak pendek hingga jauh, menurut salah satu pejabat pertahanan.

Putusan Kanselir Jerman Friedrich Merz bulan lalu melarang pengiriman senjata yang bisa digunakan di Gaza menunjukkan betapa besarnya penolakan Eropa terhadap serangan Israel. Namun, pembatasan itu—yang mencakup suku cadang tank dan produk-produk pertahanan lainnya—hanya berlaku untuk ekspor, bukan impor atau kolaborasi lainnya.

Drone Heron produksi IAI, perusahaan Israel. (Bloomberg)

  

Dampak pembatasan itu semakin berkurang pekan ini dengan munculnya rencana Jerman untuk membeli tiga drone Heron dari Israel senilai hampir €1 miliar (US$1,2 miliar).

Meski begitu, ada beberapa penolakan terhadap keuntungan perdagangan senjata tersebut.

Dua pejabat Israel mengatakan pada Bloomberg bahwa baru-baru ini, beberapa kementerian luar negeri Eropa meminta untuk menunda pembelian dari Israel hingga ada gencatan senjata di Gaza. Inggris melarang pejabat pemerintah Israel menghadiri pameran pertahanan utama di London bulan ini, dan produsen senjata Israel dilarang berpartisipasi dalam salah satu pameran dirgantara terbesar di dunia di Uni Emirat Arab pada November.

Pejabat Kementerian Pertahanan Israel, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas hal-hal yang tidak diizinkan untuk dibicarakan secara publik, mengatakan bahwa rekan-rekannya di Eropa memintanya untuk mengakhiri perang agar bisnis dapat dilanjutkan dengan lebih mudah.

Eksekutif senior di salah satu perusahaan pertahanan terbesar Israel, yang juga berbicara dengan syarat anonim, mengatakan semakin banyak pelanggan Eropa yang meminta agar pembicaraan mengenai pesanan di masa mendatang dirahasiakan.

Namun, eksekutif senior lainnya berpendapat bahwa proses pengadaan memakan waktu lama dan tidak akan terpengaruh oleh sesuatu yang dia gambarkan sebagai masalah sementara.

Perusahaan milik pemerintah Israel lainnya, IAI, co-developer dan produsen sistem pertahanan udara Arrow, memperoleh dua pertiga pendapatan tahun lalu dari penjualan ke luar negeri. Kesepakatan terbesar dalam sejarah perusahaan adalah penjualan sistem Arrow 3 ke Jerman pada 2023 senilai sekitar US$4,3 miliar.

Seperti Elbit dan Rafael, IAI berupaya memperluas operasinya di Eropa. Tahun lalu, perusahaan mengakuisisi Greek Intracom Defense "untuk memperkuat kapabilitas bisnis di Yunani dan Eropa," bunyi pernyataan perusahaan.

"Meski ada protes global terhadap Israel, laju pesanan Rafael terus meningkat setiap tahun," kata CEO Yoav Tourgeman kepada surat kabar bisnis Israel Calcalist pada 28 Agustus.

"Tidak ada satu pun proyek atau pesanan yang dibatalkan. Meski beberapa proyek sedikit melambat, saya perkirakan jika perang di Gaza berakhir, kami akan kembali normal dengan sangat cepat."

(bbn)

No more pages