Menurut Simon, penggabungan tiga subholding tersebut dilakukan untuk memitigasi penurunan laba perusahaan akibat kondisi pasar dan komoditas global yang diklaim sedang tak mendukung.
Akibat permintaan dan harga yang turun, Simon menyatakan margin keuntungan yang didapatkan akhirnya makin kecil. Produksi kilang milik Pertamina, padahal, sedang meningkat karena banyaknya kilang baru.
“Nah, dengan marginnya semakin kecil, tentunya secara keseluruhan, secara konsolidasi kan akan berpengaruh kurang baik ke bottom line perusahaan,” tegas Simon.
Dalam kaitan itu, ia menyatakan Pertamina sebelumnya memang tidak memecah usaha sektor hulu dan hilir. Akan tetapi, perusahaan menilai pemecahan usaha melalui pembentukan anak usaha diharapkan dapat membuat bisnis tersebut berkembang lebih cepat.
Sementara itu, dengan kondisi saat ini, Simon memandang Pertamina perlu menyesuaikan strategi bisnis agar dapat tetap menguntungkan.
“Iya, mungkin bisa aja, bisa jadi Patra Kilang Shipping,” pungkas Simon.
Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) mencatatkan laba bersih US$3,13 miliar atau setara dengan Rp49,54 triliun sepanjang 2024.
Torehan laba itu ditopang dengan raihan pendapatan sebesar US$75,33 miliar atau setara Rp1.194 triliun, EBITDA senilai US$10,79 miliar atau sekitar Rp171,04 triliun.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengatakan perseroannya mencatatkan kinerja keuangan yang positif sepanjang tahun lalu.
“Pada 2024, produksi migas terjaga solid di angka 1 juta barel setara minyak,” kata Fadjar lewat siaran pers, medio Juni.
Fadjar mengatakan perseroan telah mencatatkan produksi 1 juta barel setara minyak, mengambil bagian 69% dari kontribusi produksi migas nasional.
Pertamina terus memperkuat infrastruktur distribusi energi hingga saat ini lebih dari 15.000 titik ritel BBM, 260.000 titik pangkalan LPG, 6.700 gerai Pertashop, dan 573 lokasi BBM Satu Harga tersedia.
Distribusi energi juga disokong pengoperasian 288 kapal. Dari sisi bisnis gas, Pertamina mengoperasikan lebih dari 33.000 kilometer pipa transmisi dan distribusi gas serta sekitar 820.000 sambungan jargas.
Fadjar menambahkan kontribusi Pertamina kepada penerimaan negara juga terus meningkat. Sepanjang 2024, kontribusi Pertamina sebesar Rp 401,73 triliun baik dari pajak, PNBP maupun dividen.
(azr/wdh)






























