Seiring ekspansi, perusahaan akan “terus meningkatkan profil kredit kami,” kata Thuy.
VinFast sebelumnya berencana memperoleh US1,5 miliar (Rp24,68 triliun) dari penjualan sebagian aset riset dan pengembangan kepada pendiri Pham Nhat Vuong. Transaksi ini ditargetkan rampung pada paruh kedua tahun ini, kata perusahaan.
Miliarder tersebut telah mengucurkan lebih dari US$2 miliar (Rp32,9 triliun) dana pribadinya ke VinFast dan menyatakan siap terus mendukung hingga dananya habis.
VinFast mencatat rugi bersih sekitar 20,34 triliun dong (Rp 12,67 triliun) pada kuartal II, lebih naik 15% dibanding kuartal I dan naik 8,4% dari tahun sebelumnya, menurut laporan bursa.
Vuong pada April mengatakan produsen mobil listrik itu akan memprioritaskan pasar Asia termasuk India, Indonesia, dan Filipina dibanding Amerika Utara dan Eropa, di mana biaya logistik yang tinggi menekan margin.
VinFast, yang tahun lalu mengumumkan penundaan pembangunan pabrik mobil listrik di North Carolina hingga 2028, kini “terus mendorong” rencana pembukaan pabrik sesuai jadwal tersebut, kata Thuy.
Induk usaha Vingroup JSC mempertimbangkan ekspansi ekosistem bisnisnya yang luas mencakup pembangunan kota mandiri, sekolah, dan rumah sakit ke India, ujar Thuy. VinFast berkomitmen memproduksi kendaraan dan menyiapkan infrastruktur kendaraan listrik di negara tersebut, tambahnya.
Langkah itu juga mencakup peluncuran perusahaan taksi Green & Smart Mobility JSC (GSM) di India. Perusahaan taksi ini dimiliki oleh Vuong.
(bbn)






























