Namun, sebagian analis memandang angka tersebut hanya gambaran maksimum secara matematis dan kemungkinan sulit terealisasi penuh.
“Itu angka yang sangat besar, tapi itu hanya skenario maksimum teoretis, jika semuanya berjalan sempurna. Dan realitasnya tidak seperti itu.” kata Andy Blumenfeld, direktur analisis data di McCloskey by Opis.
Di samping itu, penggunaan batu bara di Amerika Serikat terus menurun seiring utilitas beralih dari bahan bakar fosil. Namun, sikap pro batu bara dan antienergi terbarukan Presiden Donald Trump ikut memperlambat laju penutupan pembangkit, termasuk di Michigan yang masih mengandalkan pasokan dari Peabody.
Menurut Administrasi Informasi Energi AS (EIA), konsumsi batu bara tahun ini diperkirakan mencapai 439 juta ton atau naik 6,7% dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, angka itu masih jauh di bawah level tertinggi pada 2007 yang mencapai 1,13 miliar ton.
“Peabody melihat peluang besar yang belum tergarap dari pembangkit listrik batu bara yang ada di AS,” ujar Mark Spurbeck, CFO perusahaan yang berbasis di St. Louis, lewat email.
Tak hanya itu, permintaan listrik AS juga diperkirakan melonjak 25% hingga 2030, didorong oleh kenaikan elektrifikasi rumah tangga, ekspansi industri, serta lonjakan pembangunan pusat data untuk kecerdasan buatan.
Namun keterbatasan rantai pasokan menghambat percepatan pembangunan pembangkit gas alam baru.
Kondisi itu mendorong ketergantungan lebih besar pada pembangkit batu bara yang selama ini beroperasi jauh di bawah kapasitas, namun dinilai masih memiliki potensi signifikan untuk menyumbang lebih banyak listrik.
Menurut Peabody, pembangkit listrik batu bara di AS hanya beroperasi pada tingkat 42% tahun lalu, jauh turun dari 72% pada 2008.
(bbn)





























