Logo Bloomberg Technoz

Lonjakan ini juga didukung oleh pertumbuhan pesanan ekspor baru yang naik 2,8 poin menjadi 51,2. Hal ini menandakan adanya peningkatan permintaan dari pasar global. Selain itu, aktivitas produksi (output/activity) juga meningkat signifikan dari 49,0 ke 52,6 atau naik 3,6 poin.

"Kapasitas produksi industri kembali ke level ekspansif. Perusahaan pun menambah tenaga kerja, tercermin dari indeks employment yang naik menjadi 50,4. Serta meningkatkan aktivitas pembelian bahan baku, dengan quantity of purchases naik 3,1 poin ke level 51,6," tambahnya.

Kemudian, perbaikan terlihat pada stocks of purchases yang meningkat 2,2 poin ke 51,1. Lalu, membaiknya waktu pengiriman pemasok (suppliers’ delivery times) yang naik ke 50,0. 

Wanti-wanti Stabilitas Nasional

Meski demikian, Agus Guniwang mengingatkan keberlanjutan tren positif industri manufaktur sangat erat kaitannya dengan stabilitas nasional. Di mana, industri butuh kondisi yang kondusif dalam menjalankan operasionalnya. 

Jika situasi mengarah ke destabilisasi, makar, atau kerusuhan, kata Agus, dikhawatirkan akan menurunkan kembali tingkat optimisme para pelaku industri. Menurutnya, sektor manufaktur berbeda dengan sektor lain karena memiliki ekosistem yang luas dan sensitif.

“Manufaktur melibatkan banyak kegiatan, mulai dari forward linkages, backward linkages, investasi, UMR, bahan baku, logistik, hingga sumber daya energi. Semua rantai ini harus dijaga agar optimisme tetap tumbuh,” jelasnya.

Ia menekankan, bahwa PMI manufaktur tidak pernah dijadikan tolak ukur oleh Kemenperin sebagai landasan menganalisa kondisi lapangan, melainkan hanya dipandang sebagai salah satu indikator tambahan untuk melengkapi analisis. Katanya, indeks kepercayaan infustri (IKI) dinilai lebih representatif karena melibatkan responden yang lebih besar, sebanyak 2.500–3.000 perusahaan industri dari 23 subsektor. 

Sebagai catatan, PMI manufaktur Indonesia pada Agustus 2025 mampu melampaui PMI manufaktur Prancis (49,9), Jerman (49,9), Jepang (49,9), Myanmar (50,4), Filipina (50,8), Korea Selatan (48,3), Taiwan (47,4), Inggris (47,3), dan China (50.5).

Capaian ekspansi PMI Manufaktur pada Agustus 2025 sejalan dengan hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang sebelumnya telah dilansir oleh Kemenperin. Pada Agustus 2025, IKI tercatat 53,55, meningkat 0,66 poin dibandingkan Juli 2025 (52,89). Angka ini juga lebih tinggi 1,15 poin dibandingkan Agustus 2024 (52,40).

Penguatan IKI bulan Agustus didukung oleh peningkatan dua dari tiga variabel pembentuknya, yaitu indeks pesanan yang naik 2,98 poin ke 57,38 dan persediaan produk meningkat 2,05 poin menjadi 57,04.

Sementara itu, berdasarkan laporan S&P Global, pesanan baru pada Agustus tumbuh untuk pertama kali dalam lima bulan terakhir, dengan volume ekspor mencatat kenaikan tercepat sejak September 2023. 

(ain)

No more pages