Logo Bloomberg Technoz

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono mengatakan penyebabnya adalah karena importir besar seperti China dan India enggan membeli batu bara Indonesia dengan harga acuan yang ditetapkan pemerintah.

Menurutnya, kebijakan mandatori harga acuan untuk transaksi ekspor batu bara kurang tepat karena kesepakatan penjualan sebaiknya melalui mekanisme pasar di mana harga tidak perlu dikendalikan pemerintah. 

“Kalau dipatok, misalnya harus dengan harga yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM, malah bagi produsen kesusahan. Penyebabnya, belum tentu pembeli dari luar itu mau menurunkan harga yang diminta oleh penjual tersebut. Faktanya seperti itu,” katanya.

Pencabutan mandatori penggunaan HPB untuk ekspor membuat batu bara Indonesia berpotensi melimpah di pasar dunia. Akibatnya, harga pun bergerak turun.

Stockpiles of coal at the Guoyuan Port Container Terminal in Chongqing, China./Bloomberg-Na Bian

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana ‘ramalan’ harga batu bara untuk bulan ini? Apakah bakal turun lagi atau bisa bangkit berdiri?

Secara teknikal dengan perspektif bulanan (monthly time frame), batu bara masih tersangkut di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 41. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Namun, indikator Stochastic RSI berada di 58. Menghuni area beli (long) meski belum cukup kuat.

Untuk September, ada kemungkinan harga batu bara bisa bangkit. Cermati pivot point di US$ 113/ton.

Dari pivot point itu, harga batu bara berpotensi menguji resisten US$ 115-119/ton. Resisten lanjutan ada di rentang US$ 120-126/ton.

Sedangkan target support terdekat adalah US$ 107/ton. Penembusan di titik ini berisiko menyebabkan harga batu bara melemah ke level US$ 106-104/ton.

(aji)

No more pages