Logo Bloomberg Technoz

Pagi ini, di Asia mata bergerak di kisaran sempit di mana yen melemah tipis 0,08% dan dolar Hong Kong juga bergerak di zona merah. Sedangkan yuan offshore menguat tipis.

NonDeliverable Forward alias NDF adalah sebutan yang merujuk pada kontrak derivatif mata uang dua belah pihak untuk mempertukarkan arus kas antara NDF dengan kurs spot yang berlaku. Satu pihak akan membayar pihak lain sebesar selisih yang dihasilkan dari transaksi tersebut.

Perdagangan NDF biasanya ditempuh perusahaan-perusahaan global dan bank investasi sebagai bagian dari strategi lindung nilai alias hedging. Kontrak NDF rupiah diperdagangkan di bursa luar negeri. Namun, di pasar dalam negeri juga ada walaupun belum sebesar bursa mancanegara.

Kontrak NDF bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari volatilitas mata uang dengan mengambil posisi atas pergerakan yang diantisipasi dalam mata uang pasar negara berkembang.  Kebanyakan para 'pemain' di NDF juga adalah bertujuan spekulatif.

Pergerakan rupiah NDF, terutama di pasar offshore atau mancanegara, kebanyakan diikuti oleh gerak rupiah di pasar spot karena para pedagang akan mencari selisih dari perbedaan harga keduanya.

Tekanan membesar

Rupiah diperkirakan akan tertekan dalam perdagangan di awal September ini menyusul kenaikan tensi  politik domestik di Indonesia pekan lalu, yang telah memicu korban nyawa akibat bentrokan di berbagai daerah di Tanah Air.

Helmi Arman, Ekonom Citigroup Securities Indonesia, dalam catatannya melihat ada beberapa sumber tekanan pasar valuta asing dalam jangka pendek, termasuk volatilitas arus masuk modal asing di pasar saham, arus keluar modal dari investor lokal juga, juga langkah investor obligasi menaikkan lindung nilai portofolio aset pendapatan tetap mereka.

"Tekanan pasar valas dapat menunda waktu pemangkasan suku bunga acuan BI rate. Namun, kemungkinan besar tidak akan membalikkan arah [penurunan bunga acuan]," kata Helmi, dilansir dari Bloomberg News, pagi ini.

Rupiah di pasar spot mencatat pelemahan pada pekan lalu sekitar 0,89% hingga ditutup di level Rp16.490/US$ pada perdagangan hari Jumat. Kinerja rupiah di pasar spot pada pekan lalu menjadi yang terburuk di Asia.

Sedangkan di pasar offshore NDF, rupiah mencatat pelemahan 1,23% dalam sepekan.

Credit Default Swap (CDS) yang mencerminkan tingkat risiko berinvestasi di Indonesia melonjak hingga 4,15% pada perdagangan Jumat lalu menyentuh 70,27, kenaikan terbesar sehari sejak 7 April lalu ketika Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar akibat penguman kebijakan tarifnya. Kala itu, CDS Indonesia melonjak sampai 19,76% dalam sehari hingga menembus 127,12.

Pagi ini, kontrak CDS RI bergerak turun 0,22% di level 70,11.

Arus keluar modal asing dari pasar saham melejit pada perdagangan Jumat lalu, ketika situasi memanas pasca Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, meninggal dunia akibat dilindas oleh kendaraan taktis Brimob Polri di tengah aksi unjuk rasa di Jakarta.

Berdasarkan data otoritas yang dikompilasi oleh Bloomberg, asing mencatat penjualan saham (net sell) senilai Rp1,12 triliun. Angka penjualan saham oleh asing itu menjadi yang terbesar sejak 31 Juli lalu. 

Sedangkan di pasar obligasi, Surat Utang Negara (SUN), berdasarkan data terakhir per 28 Agustus lalu, investor asing masih mencatat net buy senilai US$ 280,3 juta. Selama Agustus, asing mencetak pembelian bersih US$ 1 miliar month-to-date.

Adapun untuk instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), berdasarkan laporan Bank Indonesia, untuk data transaksi antara 25-28 Agustus lalu, investor asing tercatat menjual senilai Rp10,79 triliun (net sell).

(rui)

No more pages