Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan China, serta Kedutaan Besar AS di Beijing, belum memberikan komentar terkait rencana kunjungan ini.
Perseteruan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut relatif mereda sejak awal bulan ini, setelah Presiden Donald Trump memutuskan memperpanjang jeda penerapan tarif tinggi terhadap barang-barang asal China selama 90 hari. Beijing kemudian merespons dengan langkah serupa.
Jeda ini memberi waktu lebih panjang bagi kedua negara untuk membicarakan sejumlah isu yang belum terselesaikan. Di antaranya bea masuk terkait perdagangan fentanyl yang diberlakukan Trump terhadap China, kekhawatiran AS mengenai pembelian minyak Rusia dan Iran oleh Beijing, serta perbedaan pandangan terkait operasi bisnis Amerika di China.
Pengiriman Li ke AS dinilai sebagai “tanda positif menuju kesepakatan yang bisa membuka jalan bagi pertemuan puncak” antara Trump dan Presiden Xi Jinping, kata Jeremy Chan, analis senior Eurasia Group untuk China dan Asia Timur Laut yang pernah bertugas sebagai diplomat di China dan Jepang.
Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk bertemu Xi. Pada Selasa, ia kembali menegaskan bahwa “kemungkinan tahun ini atau tak lama setelahnya, kami akan pergi ke China.”
Li sendiri ditunjuk sebagai Wakil Menteri Perdagangan sekaligus utusan perdagangan awal tahun ini. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Duta Besar China untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
(bbn)































