Logo Bloomberg Technoz

Perlambatan inflasi inti sebenarnya sudah diperkirakan para analis. Tahun lalu, harga energi melonjak tajam setelah berakhirnya program subsidi pemerintah. Sementara harga minyak pada Juli turun sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harga beras, salah satu pendorong utama inflasi tahun ini, melonjak 90,7% dibandingkan setahun lalu, melambat dari kenaikan 100,2% pada Juni. Lonjakan tajam harga bahan pokok ini memicu keresahan di seluruh negeri. Pembuat kebijakan memperkirakan inflasi tahunan akan melandai dalam beberapa bulan ke depan setelah lonjakan harga dimulai pada musim gugur lalu. Namun, gelombang panas ekstrem bisa mengurangi produksi dan memperburuk kekurangan pasokan.

Harga pangan—tidak termasuk makanan segar—naik 8,3%, laju tercepat sejak September 2023. Sementara harga jasa naik 1,5%, sama seperti bulan sebelumnya.

Ketidakpuasan publik atas melonjaknya biaya hidup menjadi faktor kunci kekalahan besar Perdana Menteri Shigeru Ishiba dan koalisinya dalam pemilu bulan lalu. Kehilangan mayoritas di kedua kamar parlemen, Ishiba kini menghadapi desakan mundur dari sejumlah anggota legislatif. Analis memperkirakan Ishiba bisa berusaha menggalang dukungan dengan menjanjikan belanja fiskal tambahan untuk meredakan beban konsumen.

Dalam rapat kebijakan moneter Juli, Dewan BOJ di bawah Gubernur Kazuo Ueda menaikkan proyeksi inflasi lebih tinggi dari perkiraan untuk tahun fiskal ini, dengan alasan tekanan dari kenaikan harga pangan. BOJ diperkirakan akan menahan suku bunga saat rapat kebijakan berikutnya pada 19 September.

Pedagang menilai ada peluang sekitar 51% bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga sebelum akhir Oktober, berdasarkan pergerakan indeks swap semalam. Angka ini naik dari sekitar 42% sebulan lalu. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang pada Kamis mencapai level tertinggi sejak 2008, sebagian karena spekulasi bahwa suku bunga acuan akan kembali dinaikkan.

(bbn)

No more pages