Penguatan nilai dolar AS terpicu oleh mode wait and see terhadap simposium tahunan Bank Sentral AS Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming.
“Pasar berekspektasi bahwa The Fed akan memberikan nada dovish dalam simposium Jackson Hole,” terang Priyanka Sachdeva, Analis di Phillip Nova yang berbasis di Singapura, seperti yang diwartakan Bloomberg News.
Namun, Sachdeva juga mengingatkan ada tendensi inflasi AS bakal ‘memanas’ imbas kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Ini bisa menjadi faktor penghambat penurunan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang pemangkasan bunga acuan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4–4,25% dalam rapat September adalah 83,6%. Lebih lebih rendah dibanding pekan lalu yang sempat mencapai 85,4%.
Sementara kemungkinan suku bunga acuan bertahan di 4,25–4,5% adalah 16,4%. Kemungkinannya bertambah dari posisi pekan lalu yang sebesar 14,6%.
“Saat ini, uang sedang menunggu di pinggir lapangan sampai ada sinyal terbaru,” ujar Nick Twidale, Kepala Analis di ATFX Global Markets yang berbasis di Sydney, seperti yang dilaporkan Bloomberg.
Saat investor cenderung menahan diri dan bermain aman, maka arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan negara–negara berkembang menjadi seret. Hasilnya, mata uang Asia pun ramai–ramai melemah, termasuk rupiah.
BI Rate Berpotensi Ditahan 5,25%
Mulai hari ini, Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Agustus. Hasilnya akan diumumkan esok hari, termasuk bunga acuan BI Rate.
Hingga Selasa (19/8/2025) siang hari, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 35 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi BI Rate tetap di 5,25%. Artinya, suku bunga acuan sepertinya tidak ke mana–mana alias hold.
Biarpun tidak sepenuhnya aklamasi, tetapi sepertinya pasar sudah satu suara. Sebab, hanya 7 ekonom/analis yang mengestimasikan BI Rate turun 25 basis poin (bps) menjadi 5%.
Di antara pihak yang memprediksi BI Rate bertahan di 5,25% bulan ini adalah Bloomberg Economics. Menurut mereka, BI perlu menahan suku bunga acuan dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah.
“BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan di 5,25% pada 20 Agustus. Ini dilakukan demi memastikan rupiah tetap terjangkar di tengah kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang akan mulai ‘menggigit’,” sebut Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics.
BI, lanjut Henderson, juga perlu menyeimbangkan antara stabilitas nilai tukar rupiah dengan pertumbuhan ekonomi. Penurunan suku bunga acuan memang bisa berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi BI Rate baru saja diturunkan bulan lalu.
(fad/aji)





























