Presiden Prabowo juga bertekad memaksimalkan instrumen belanja negara untuk transisi ke energi baru-terbarukan. Ini bisa menjadi kabar baik bagi emiten seperti PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Sebagai catatan, BREN adalah perusahaan publik terbesar di Indonesia. Kapitalisasi pasar BREN mencapai Rp 1.234,12 triliun.
Pada 2026, Presiden Prabowo juga berencana mengerek anggaran MBG menjadi Rp 335 triliun dari tahun ini yang sebesar Rp 171 triliun. Perkembangan ini bisa menjadi pengungkit saham konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company (ULTJ).
Defisit Mengecil
Di sisi lain, pendapatan negara pada 2026 direncanakan sebesar Rp 3.147,7 triliun. Naik 9,85% dibandingkan perkiraan 2025.
Dengan demikian, defisit anggaran pada 2026 adalah Rp 638,8 triliun. Angka ini setara dengan 2,48% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit anggaran 2026 lebih rendah ketimbang perkiraan 2025 yang sebesar 2,78% PDB.
“Proyeksi defisit 2,48% PDB untuk tahun depan mengambil batas bawah dari kisaran yang diajukan. Ini positif bagi pasar obligasi pemerintah dan nilai tukar rupiah,” sebut Wee Khoon Chong, Senior APAC Market Strategist di BNY, seperti diberitakan Bloomberg News.
Sementara itu, asumsi pertumbuhan ekonomi untuk 2026 ada di 5,4%. Lebih tinggi ketimbang tahun ini yang diperkirakan 5,2%.
“Ada ekspektasi bahwa ekonomi akan kembali menguat. Ini menjadi berita positif bagi emiten perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI),” kata Jerry Goh, Investment Director of Asian Equities di Aberdeen, juga diwartakan Bloomberg News.
Secara umum, sepertinya pelaku pasar merespons positif RAPBN 2026 yang disampaikan Prabowo kemarin. Apalagi ada harapan pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih tinggi dengan defisit anggaran yang mengecil.
“Pendekatan yang seimbang ini, dengan mendukung pembangunan sosial seraya mempertahankan stabilitas, akan berdampak positif bagi ekonomi dan nilai tukar rupiah,” tegas Lloyd Chan, FX Strategist di MUFG Bank Ltd, sebagaimana diberitakan Bloomberg News.
(red)






























