Sementara itu, sebanyak 7 industri hidrometalurgi telah mempu menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) dari bijih nikel kadar rendah.
“Puncak keberhasilan hilirisasi nikel yakni menciptakan nickel sulphate sebagai bahan baku pembentuk ekosistem kendaran listrik nasional,” dikutip dari lampiran pidato.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama produk domestik bruto (PDB) berdasarkan lapangan usaha. Sektor industri pengolahan pada kuartal II-2025 mencatat pertumbuhan sebesar 5,68% secara tahunan.
Pertumbuhan ini didorong oleh keberlanjutan proyek hilirisasi, terutama hilirisasi mineral yang berkembang menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Menurut catatan pemerintah, pertumbuhan subsektor industri logam dasar mencapai double digit pada kuartal II-2025 sebesar 14,91% secara tahunan.
Faktor pendorong kinerja hilirisasi mineral tahun ini di antaranya percepatan proyek hilirisasi nikel menjadi baterai di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah, beroperasinya smelter tembaga dan industri copper foil di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat serta hilirisasi bauksit ke alumina dan aluminium di Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.
Selain itu, sebanyak 7 smelter dari 16 smelter prioritas telah mencapai kemajuan kontruksi lebih dari 90% dan diharapkan dapat beroperasi pada akhir 2025.
(naw)































