Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham teknologi yang menjadi pendorong penguatan IHSG ialah saham PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF) yang melesat setinggi 34,9%, saham PT WIR Asia Tbk (WIRG) yang dengan kenaikan 26,9%, dan hingga terbesarnya saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menguat 9,98%.

Senada, saham kesehatan juga melesat hingga mendukung penguatan IHSG, saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) meljit 5,88%, saham PT Mayapada Hospital Tbk (SRAJ) melesat dengan kenaikan 4,54% dan saham PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) menguat 3,53%.

IHSG All Time High (Bloomberg)

Saham–saham unggulan LQ45 yang juga bergerak pada teritori positif antara lain, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melesat 5,61%, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menguat 2,64%. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terbang 2,52%, dan juga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melonjak 2,51%.

Menyusul rekan–rekan, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) melesat 2,31%, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terapresiasi 1,79%. Senada, saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menguat 1,72%, dan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) meninggi 1,56%.

Adapun Bursa Asia hari ini justru didominasi pelemahan. Indeks Shenzhen Comp. China ambles 1,2%, SETI Thailand drop 1,1%, Shanghai turun 0,46%, Strait Times Singapore terdepresiasi 0,38%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,37%, dan KLCI Malaysia merah 0,35%.

Penguatan IHSG sejalan dengan solidnya mata uang Indonesia rupiah hari ini Kamis (14/8/2025) di pasar spot rupiah menyentuh level Rp16.110/US$ pada penutupan perdagangan, yang menjadi level terkuat sejak Desember 2024 yang lalu.

Penguatan rupiah sepanjang hari ini juga berarti untuk pertama kalinya, rupiah mempersempit ruang pelemahan sepanjang tahun, yang tersisa hanya 0,05% year–to–date.

Keberhasilan rupiah yang nyaris menghapus semua pelemahan sepanjang tahun pada penutupan perdagangan efek langsung dari momentum positif di tengah sentimen pasar global yang menguntungkan aset emerging market.

Data Ekonomi AS yang lemah memperkuat skenario pemangkasan suku bunga The Fed dalam tempo sesegera mungkin. Hal itu diyakini akan mengikis pamor aset-aset pasar AS, dan membuat emerging asset lebih menarik.

Mengutip riset Nomura oleh Craig Chan, ia melihat peluang pemangkasan bunga The Fed lebih dini karena data penting AS termasuk angka Non–Farm Payroll pada Juli masih lemah dengan revisi penurunan yang signifikan. Ditambah lagi angka inflasi inti CPI juga tidak menunjukkan kenaikan harga barang yang dicemaskan akibat faktor kebijakan tarif.

(fad)

No more pages