Logo Bloomberg Technoz

Hanya won yang melemah bersama baht, masing-masing 0,22% dan 0,02%.

Pergerakan aset di pasar keuangan hari ini masih dipicu oleh ekspektasi penurunan bunga The Fed dalam waktu dekat, menyusul data inflasi AS yang relatif masih terkendali.

Pernyataan para pejabat The Fed terbaru agaknya akan memberikan dorongan lebih besar lagi ke pasar. 

Gubernur The Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan, dia masih melihat ada potensi penurunan bunga acuan satu kali tahun ini sebagaimana mestinya bila pasar tenaga kerja masih solid.

"Untuk sisa tahun ini, saya masih punya satu pemangkasan [bunga acuan] dalam prospek saya. Itu juga berdasarkan gagasan bahwa pasar tenaga kerja tetap solid. Jika pasar tenaga kerja melemah signifikan, keseimbangan risiko akan mulai terlihat berbeda dan jalur yang tepat pun akan terlihat berbeda," katanya, dilansir dari Bloomberg News, hari ini.

Analis Nomura termasuk Craig Chan dalam catatannya, merekomendasikan 'shortpairing USD/IDR dengan target Rp15.500 per dolar AS pada akhir Oktober, untuk menjala keuntungan sebesar 4,5%.

Nomura melihat peluang pemangkasan bunga The Fed lebih awal karena data penting AS termasuk angka Nonfarm Payroll pada Juli masih lemah dengan revisi penurunan yang signifikan.

Ditambah lagi angka inflasi inti CPI juga tidak menunjukkan kenaikan harga barang yang dikhawatirkan akibat faktor kebijakan tarif.

Arus masuk portofolio asing ke aset-aset Amerika menunjukkan perlambatan sekitar 50% setelah rilis data tenaga kerja, yang menggarisbawahi kekhawatiran yang terus berlanjut akan prospek aset keuangan di negeri itu.

Secara teknikal, rupiah telah menembus level resistance pertama dan kedua. Rupiah berpeluang menguat lebih banyak menuju level Rp16.100/US$ sampai dengan Rp16.050/US$ sebagai resistance terkuatnya dalam time frame daily.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Kamis 14 Agustus 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

(rui)

No more pages