Saham–saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Golden Flower Tbk (POLU) yang ambles 9,75%, saham PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) yang jatuh 9,6%, dan saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) yang ambruk 9,38%.
Bursa Asia lainnya turut menguat, senada dengan IHSG. Index Hang Seng (Hong Kong), SETI (Thailand), Shenzhen Comp. (China), NIKKEI 225 (Tokyo), Straits Time (Singapura), KLCI (Malaysia), KOSPI (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), CSI 300 (China), PSEI (Filipina), Shanghai Comp. (China), SENSEX (India), dan Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) yang berhasil menguat masing-masing 2,58%, 1,46%, 1,33%, 1,30%, 1,23%, 1,19%, 1,08%, 0,88%, 0,83%, 0,79%, 0,56%, 0,48%, 0,38%, dan 0,21%.
Alhasil, IHSG adalah Bursa Saham dengan penguatan terbaik kelima di Asia.
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah menjadi sentimen positif bagi IHSG. Di sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus–menerus menguat dan solid di hadapan dolar Amerika Serikat.
Pada tutup perdagangan di pasar spot, US$1 setara dengan Rp16.195. Rupiah menguat 0,58% point–to–point.
Sejak pagi tadi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka langsung menguat dan stabil di tren positif dalam pembukaan perdagangan pasar spot, Rabu hingga ditutup di level Rp16.195/US$.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terus menguat hingga menempati level terkuatnya di sesi intraday mencapai Rp16.195/US$ pada penutupan perdagangan, berhasil mencatat penguatan rupiah terbesar dalam sehari dari lima hari perdagangan, sampai–sampai menyentuh level terkuat sejak Juli lalu.
Arus modal asing yang masih berlanjut baik di pasar saham serta surat utang negara, dan terus membesar menyerbu aset–aset di emerging market setelah data inflasi AS yang sesuai estimasi pasar, memperkuat skenario pemangkasan bunga acuan The Fed sesegera mungkin.
Investor ramai memburu surat utang berimbal hasil tinggi seperti Surat Utang Negara (SUN) yang sampai penutupan hari ini, terpantau membukukan reli harga.
Harapan yang menguat akan penurunan bunga The Fed juga memperkuat hasrat akan berlanjutnya siklus pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia di sisa tahun demi mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
Efeknya, saat rupiah menguat, beban utang luar negeri masing–masing emiten perusahaan akan terpangkas. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah.
Pada nantinya, berpotensi membuat bertambahnya nilai laba bersih perusahaan. Ketika laba emiten mencatat pertumbuhan, investor bisa berharap menikmati datangnya dividen yang memetik keuntungan dari saham.
(fad/wep)




























