Adapun lahan tebu itu dibuka oleh PT Global Papua Abadi untuk industri gula dan bioetanol.
Total nilai investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan 2 juta ha lahan tebu di Merauke diklaim hampir mencapai US$8 miliar atau setara Rp130 triliun (asumsi kurs Rp16.252,15).
Dalam proyek tersebut, akan terdapat total 5 konsorsium yang terlibat untuk mengembangkan 5 pabrik gula, lahan pabrik gula, sekaligus produksi bioetanol, kebun, dan pembangkit listrik dengan kapasitas 120 megawatt (120 MW).
Sebelumnya saat masih menjabat Wakil Menteri Investasi/BKPM, Yuliot membeberkan, PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN) atau Sugar Co dan Wilmar Group bakal bergabung ke dalam proyek ini.
Adapun, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukkan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan setengah dari 2 juta ha lahan tebu tersebut bakal digunakan untuk bahan baku bioetanol.
Eniya menargetkan bioetanol itu bisa menggeser posisi Pertalite saat ini.
Di sisi lain, Eniya mengatakan lahan di Merauke, Papua Selatan tersebut nantinya akan dikelola oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
“Di situ separuhnya adalah lahan untuk bahan baku dari bioetanol. Jadi arahnya ke sana," tuturnya kepada Bloomberg Technoz, belum lama ini.
Menurut Eniya, upaya persiapan lahan tersebut merupakan bentuk implementasi dari Peraturan Presiden No. 40/2023, yang di dalamnya mengatur percepatan swasembada gula dan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (biofuel).
(azr/naw)































