Sebelumnya, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah mengatakan, harga tanah yang mahal menjadi momok yang menyebabkan tinggi nya harga rumah.
"Harga rumah itu bukan karena teknologi dan konstruksinya. Tapi karena harga tanah yang tidak masuk akal," katanya saat ditemui di Jakarta, dikutip Kamis (7/8/2025).
"Artinya rumah itu mahal karena tanah, bukan karena bangunannya. Kira-kira begitu, logikanya begitu," tambahnya.
Fahri juga mengamini adanya kecenderungan masyarakat saat ini yang pilih menyewa daripada membeli hunian.
"Sewa itu salah satu fenomena perkotaan. Tetapi sewa untuk memiliki juga kita akan dorong. Supaya orang itu ketika dia menyewa, jangan masa sewa habis, uangnya hangus. Tapi itu harus kita anggap sebagai DP [Down Payment]. Sehingga dia bisa melanjutkan pembayaran untuk kemudian memiliki," katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Berdasarkan data platfrom Rumah123, permintaan rumah yang disewa hingga semester I tahun 2025 melonjak tajam daripada permintaan rumah yang dijual. Permintaan rumah sewa melonjak hingga 65,5%, sedangkan permintaan terhadap rumah yang dijual hanya tumbuh sekitar 13,8%.
Jika dibandingkan dengan paruh kedua tahun 2024, tren permintaan rumah yang jual tumbuh sekitar 15% dan rumah sewa meningkat hingga 57,9%.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) periode kuartal II-2025. Harga perumahan masih naik, tetapi lajunya terbatas.
Pada Rabu (7/8/2025), Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) untuk kuartal II-2025 berada di 110,13. Tumbuh 0,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Laju tersebut melambat ketimbang kuartal I-2025 yang naik 1,07% yoy.
(ell)




























