Logo Bloomberg Technoz

Akibat kondisi penghasilan yang lebih buruk, penilaian masyarakat akan kondisi ekonomi saat ini juga lebih buruk dibanding enam bulan silam.

Hal itu ditambah kondisi ketersediaan lapangan kerja, tercermin dari Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, yang masih terjebak di zona pesimistis untuk tiga bulan berturut-turut, tepatnya di level 95,3, meski sedikit naik ketimbang posisi bulan sebelumnya.

Pengunjung mal melihat produk fesyen di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Indeks Ekonomi Saat Ini tertolong oleh greget konsumen dalam belanja barang nonmakanan, diindikasikan oleh Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods), yang masih tumbuh positif di zona optimistis, terutama oleh konsumen dengan pengeluaran Rp4,1 juta-Rp5 juta yang naik hingga 9,6 poin.

Meski kondisi penghasilan saat ini dinilai lebih buruk, namun konsumen meningkat optimismenya akan ada perbaikan enam bulan ke depan.

Hal itu tecermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Penghasilan di semua kelas konsumen, terutama kelas konsumen berpengeluaran terbanyak.

Pada Juli, indeks yang mengukur persepsi penghasilan enam bulan ke depan dibanding saat ini, menyentuh 136,4, tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Masyarakat Indonesia juga sedikit lebih optimistis akan ketersediaan lapangan kerja ke depan, ditandai dengan kenaikan Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja yang naik tertinggi sejak April.

Hanya saja, masyarakat Indonesia masih kurang yakin dengan perbaikan kegiatan usaha, tecermin dari Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha yang jatuh ke level terendah sejak akhir 2022 silam yaitu di level 127,5.

Konsumen dengan besar pengeluaran terkecil antara Rp1 juta-Rp2 juta per orang per bulan, indeksnya anjlok sampai double digit ke level 109,8, penurunan terbesar dalam setahun terakhir.

Secara keseluruhan, tingkat keyakinan konsumen yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen tak banyak berubah pada Juli, yakni di kisaran 118,1 mencerminkan kenaikan cuma 0,3 dibanding bulan sebelumnya.

'Makan Tabungan' berlanjut

Kondisi keuangan konsumen pada Juli menunjukkan tren 'makan tabungan' berlanjut dengan penurunan alokasi tabungan ketika pengeluaran untuk konsumsi dan utang meningkat.

Pada Juli, inflasi memang melesat naik ke level tertinggi setahun di 2,37%, terutama akibat lonjakan harga kebutuhan pokok seperti beras, bawang merah, minyak goreng, juga kopi bubuk. Inflasi Juli juga terkerek naik akibat lonjakan inflasi biaya pendidikan, terutama untuk biaya sekolah dasar dan masuk perguruan tinggi atau akademi.

Inflasi sektor pendidikan ini tercatat 1,95% year-on-year pada Juli, tertinggi ketiga inflasi perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melompat 9%, juga inflasi kelompok makanan dan minuman sebesar 3,75%. Andil inflasi pendidikan pada inflasi Juli mencapai 0,11%.

Data survei konsumen terbaru itu memberi nuansa berkebalikan dengan laporan pertumbuhan ekonomi kuartal II yang baru saja dirilis awal pekan ini.

Capaian pertumbuhan ekonomi kuartal kedua melesat hingga 5,12%, tertinggi dalam dua tahun terakhir, melampaui perkiraan semua ekonom dan pelaku pasar.

Laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto pada kuartal kedua yang luar biasa itu, terutama disumbang oleh kenaikan ekspor dan investasi (PMTB) masing-masing tumbuh 10,67% dan 6,99%.

Sedangkan belanja rumah tangga, yang menjadi motor utama ekonomi Indonesia selama ini, selama kuartal II-2025 tercatat hanya tumbuh 4,97%, tak banyak berubah dibanding periode sebelumnya dan belum mampu kembali ke level prapandemi.

Tekanan yang dialami oleh rumahtangga mungkin akan berlanjut ke depan di tengah laju PDB yang diperkirakan akan kembali melambat di sisa tahun.

Capaian mengejutkan pada kuartal II dinilai hanya sementara karena lebih didorong oleh kegiatan frontloading ekspor dan relokasi investasi rantai suplai dari China.

Alhasil, keseluruhan prospek pertumbuhan PDB pada separo kedua tahun ini diprediksi hanya di angka 4,9% atau lebih rendah, seperti ditulis oleh tim riset Mega Capital Sekuritas dalam catatannya.

Senada, ekonom Bloomberg Economics Tamara Mast Henderson juga memperkirakan hal serupa. Capaian kuartal II kemungkinan tidak akan bertahan lama karena dampak tarif AS belum terasa.

"Ketika dampaknya terasa, pertumbuhan akan terdampak. Dengan inflasi terkendali, prospek pertumbuhan lebih lemah akan membuka jalan bagi BI untuk menurunkan bunga acuan 25 bps kuartal ini," katanya. 

(rui)

No more pages